Membudayakan Trans Sarbagita, Trans Sarbagita Berbudaya

Jumlah kendaraan yang besar hingga terjadi kemacetan lalu lintas adalah polemik yang sering dijumpai di kota besar. Di Bali, dalam satu rumah memiliki hingga lima motor bahkan lebih dari satu mobil merupakan hal yang lumrah. Padahal, kendaraan tersebut tidak terisi penuh ketika dipergunakan. Bila melihat dari sisi positif, hal ini mungkin benar menunjukkan kemampuan ekonomi masyarakat Bali yang cukup baik.

Namun, kemacetan tetap menyimpan permasalahan yang lebih banyak dari sekadar dalil peningkatan kemampuan ekonomi. Terdapat polusi udara, pemborosan bahan bakar minyak (BBM) hingga kerugian waktu. Berbagai upaya untuk mengatasi permasalahan oleh pemerintah daerah dikerahkan, mulai dari pembangunan underpass, jalan layang di atas laut hingga terobosan pengadaan transportasi massal yang dikenal dengan nama Trans Sarbagita.

Setelah lebih dari dua tahun beroperasi, terhitung sejak 18 Agustus 2011, Trans Sarbagita sebagai salah satu program unggulan Bali Mandara Pemerintah Provinsi Bali seharusnya mampu berpengaruh mengurai kemacetan. Dari master plan lima tahun kedepan yaitu tujuh belas trayek dan ditunjang dengan tiga puluh enam trayek pengumpan, saat ini baru dua trayek Trans Sarbagita yang beroperasi yaitu koridor 1 Kota Denpasar – GWK, Pulang Pergi (PP) dan koridor 2 Batubulan – Nusa Dua PP via sentral Parkir serta jalur pengumpan Tegal – Bandara Ngurah Rai PP. Namun bila berkaca hingga hari ini yang nampak adalah pengerjaan setengah hati.

Tanpa memungkiri, mungkin saja Trans Sarbagit mampu berperan kecil dalam mengurai kemacetan pada dua trayek utama yang sudah beroperasi. Namun padatnya kendaraan pada lalu lintas di bakal trayek lain akan terus meningkat. Untuk itu, trayek berikutnya yang akan di uji coba  dan kemudian beroperasi adalah trayek terintegrasi dan menuju Bandara Internasional Ngurah Rai, yaitu trayek Sanur-Nusa Dua PP via Bandara Ngurah Rai dan jalur Koridor 7, Mengwi-Bandara Ngurah Rai PP via Kerobokan.

Sarbagita merupakan akronim dari Denpasar, Badung, Gianyar dan Tabanan yang merupakan titik-titik kemacetan di Bali. Bila mengacu pada master plan selanjutnya Trans Sarbagita akan terus menambah jumlah trayek, sehingga dibutuhkan bukan saja pengelolaan yang modern namun juga profesional dan kesiapan dari pengelola. Termasuk penyediaan sekaligus perawatan secara berkesinambungan terhadap fasilitas. Baik berupa halte yang nyaman dan bersahabat terhadap kaum diffable dan petunjuk rute di tiap halte. Pelatihan terhadap sumber daya manusia yang dimiliki juga sangat penting. Hal yang sama pentingnya, sebagai sebuah program dengan tujuan mengurai kemacetan, Trans Sarbagita sudah seharusnya memiliki target dan mengadakan evaluasi berkala.

Melalui website resmi pemerintahan Provinsi Bali yang di posting pada bulan Maret 2013, disebutkan pada evaluasi di tahun pertama beroperasinya Trans Sarbagita menunjukkan hasil yang baik. Jumlah penumpang pada 2011 terhitung sebanyak 205.101 orang jika dirata-rata 1.508 orang tiap hari, meningkat menjadi 855.580 orang pada 2012 yaitu rata-rata 2.886 orang tiap hari. Penumpang sebanyak 2.886 orang tiap hari diklaim setara dengan pengurangan 1.449 unit kendaraan, terdiri dari 1.014 unit sepeda motor dan 435 unit mobil. Ini berarti penghematan BBM setiap hari untuk motor dan mobil rata-rata 3.093 liter. Penelitian mengenai efektivitas Trans Sarbagita di masyarakat juga pernah dilakukan oleh FISIP Universitas Udayana dengan hasil yang berbeda.

Permasalahan ini merupakan tantangan yang harus dijawab bagi Pemerintah Provinsi Bali terutama pengelola Trans Sarbagita. Meningkatkan kesadaran masyarakat akan keberadaan Trans Sarbagita di era digital sesuatu yang tidak terlalu sulit bila disertai dengan inovasi. Sosialisasi pada saluran radio, sudah cukup bagus pada kalangan tertentu. Kini pada masyarakat perkotaan, hal yang pertama dicari ketika bangun tidur di pagi hari justru smartphone mereka. Begitu besarnya ketergantungan masyarakat akan teknologi, menjadikannya sebagai budaya. Media sosial, contohnya twitter merupakan alat yang bisa dipergunakan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat yang lebih luas.

Masih disayangkan, saat membuka halaman akun twitter Trans Sarbagita yaitu @TransSARBAGITA ternyata hanya memiliki 872 followers dengan 506 tweets, dengan tweet terakhir pada 3 Desember 2013. Keberadaan akun twitter Trans Sarbagita, masih seputar melayani aduan dari konsumen dan memberi pengumuman, belum menyentuh hati masyarakat sebagai konsumen untuk merasa dekat dengan Bus ini. Twitter ini merupakan sarana yang potensial bila dikelola secara professional. Kita tengok saja pada program sejenis milik provinsi lain, Trans Jakarta di akun twitternya @BLUTransJakarta memiliki 70.897 followers. Di sini jumlah followers juga berbanding lurus dari manfaat twitter yang dirasakan, akun resmi Trans Jakarta ini aktif setiap hari untuk menyapa dan memberi informasi terhadap masyarakat. Jika masyarakat sudah menyadari keberadaan Trans Sarbagita maka dari tahun ke tahun diharapkan ada peningkatan jumlah penumpang.

Cara lain yang juga penting adalah mengadakan sosialisasi pada anak-anak, baik yang duduk di tingkat Taman Kanak-Kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD). Karena ke depan mereka akan sering melakukan mobilitas, ketika beranjak di bangku pendidikan yang lebih tinggi atau bekerja. Maka cara terbaik adalah menanamkan nilai-nilai ketika mereka masih duduk di bangku pendidikan dasar. Acara sosialisasi bisa dikemas menjadi menyenangkan dengan pendekatan budaya sehingga mampu membuat anak-anak merasa dekat dengan bus berwarna biru ini.

Melalui pengembangan moda transportasi massal sesungguhnya banyak manfaat yang akan di dapat, hubungan manusia dengan sesama manusia karena saling berinteraksi, dengan alam karena akan mengurangi beberapa polusi sekaligus, baik udara maupun suara. Ketika menggunakan Trans Sarbagita telah berhasil menjadi budaya di masyarakat, maka akan lebih mudah ketika pada daerah lain di Provinsi Bali dibangun moda transportasi yang sama. Kuncinya kembali pada sosialisasi berkesinambungan, peningkatan mutu sumber daya manusia  dan fasilitas, serta sinergi antara pemerintah provinsi dan masyarakat. Sehingga Trans Sarbagita menjadi salah satu icon Bali yang bukan hanya diakui oleh sebagian kalangan tapi oleh masyarakat Bali.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s