Kartini Dalam Perayaan, Gelar dan Perjuangan

Hari ini adalah beberapa puluh ribu hari sejak Indonesia merdeka, beberapa puluh ribu hari sejak Kartini lahir. Hari ini, dikenal sebagai peringatan Hari Kartini. Telah puluhan kali peringatan Hari Kartini yang dilewati bangsa Indonesia, meski belum sebanyak jumlah hari yang dilewati generasi saya.

Pada masa Taman Kanak-Kanak hingga di Sekolah Dasar, saya memperingati Hari Kartini melalui karnaval pakaian nasional. Pada usia yang lebih besar, saat di Sekolah Menengah Pertama maupun Sekolah Menengah Atas, Hari Kartini tetap tidak terpisahkan dari lomba-lomba. Di masa kini, cukup melangkahkan kaki kita sedikit untuk pergi ke Bank atau Pusat Perbelanjaan, maka kita akan menemukan orang-orang dengan pakaian nasional, terutama pegawai perempuan yang mengenakan kebaya.

Apakah memperingati Kartini hanya sekadar memperingati pakaian nasional, dalam hal ini kebaya? Apakah memperingati Kartini, akan lebih menyenangkan melalui lomba memasak, atau membagi-bagikan bunga di sisi jalanan kota?

Babak baru dalam mengenal Kartini, saya dapat saat menjadi mahasiswi. Pada peringatan hari Kartini di tahun-tahun sebelumnya, saya lewati dengan diskusi. Tentunya setelah membaca surat-surat Kartini. Semua itu cukup membuka cakrawala berpikir saya, mengenai bagaimana sosok Kartini. Kartini sebagai objek dan Kartini sebagai subjek.

Mereka yang merasa mengenal sosok Kartini melalui perayaan-perayaan yang saya sebut sebelumnya, akan mengaitkan Kartini dengan emansipasi perempuan. Kartini sebagai pahlawan nasional. Kartini sebagai bangsawan dari Jawa pada masa itu, pada akhirnya hanya sejauh emansipasi perempuan. Mereka mengenal Kartini, hanya sebatas apa yang dikenalkan oleh Pemerintah, dimana Kartini adalah objeknya.

Kemudian, pertanyaan yang paling sering muncul pada beberapa tahun belakangan, “Mengapa harus Kartini? Ia tidak berjuang secara nyata. Ia adalah anak bangsawan yang dekat dengan orang-orang Belanda. Ia bahkan tidak mengangkat senjata.” Menurut kaum ini, masih banyak perempuan lain yang pantas untuk mendapat gelar pahlawan. Tentunya, bukan dari Jawa, yang menurut mereka sebagai pengukuhan terhadap Jawasentris. Tentunya, karena perempuan pejuang yang lain berjuang lewat mengangkat senjata. Tentunya, kaum yang menggugat ini justru mayoritas belum mengenal Kartini melalui buku dan pemikirannya. Mereka adalah kaum yang mengenal Kartini dari permukaan.

Kartini sebagai perayaan, mungkin hampir seluruh masyarakat Indonesia mengetahuinya. Kartini yang diberi gelar pahlawan nasional, paling tidak kita yang duduk di bangku sekolah, sempat mempelajarinya. Namun, tidak semua orang mau menyempatkan diri untuk membaca surat-surat dan pemikiran Kartini. Sementara, kita terbiasa menjadi generasi buta sejarah, yang enggan mencari tahu atau meneliti asal-asul kita.

Bagi saya, Kartini bukan sekadar peringatan emansipasi perempuan. Meskipun gelarnya tersebut muncul karena perdebatan pada saat itu mengenai kekosongan pahlawan nasional dari kaum perempuan. Kartini adalah tentang korban (ia meninggal muda di usia 25 tahun dalam proses persalinan) sekaligus tentang inspirasi, tentang pemikiran yang ia tularkan pada generasi-generasi selanjutnya. Kartini telah hadir dengan pemikiran-pemikirannya yang mampu menggerakkan termasuk nasionalisme, jauh sebelum munculnya sumpah pemuda. Jauh sebelum pemikiran emansipasi dari Barat dimunculkan dan dibawa kemari, kebebasan Kartini adalah kebebasan yang berasal dari nurani.

Kartini menjadikan pena sebagai pedangnya untuk berjuang. Ia tetap berpikir kritis (bahkan mungkin dianggap radikal pada saat itu) di tengah ketidaknyamanan akan tuntutan sebagai perempuan Jawa. Kartini mempercayai dan paham betul, dengan menulis pemikirannya akan terdengar. Ia memilih menulis dan mengirimkan tulisannya pada orang-orang Belanda dengan pertimbangan tersendiri. Mungkin saja, akan semakin menyulitkan bila ia mengugat bangsanya sendiri pada masa itu.

Kartini terus menulis, bukan hanya tentang kebebasan dan kesetaraan sebagai situasi yang ia harapkan. Ia menulis mengenai nasionalisme, agama hingga perkawinan. Bagi saya, berani bersuara dan  menghadapi kesulitan yang ada adalah bentuk dari perjuangan. Terlalu lugu, bila dalam pemikiran kita ditanamkan perjuangan harus dengan mengangkat senjata. Bahkan akhirnya bangsa ini pun merdeka dengan perjuangan intelektual.

Kartini sebagai subjek adalah kaum intelektual. Malangnya, intelektualitasnya harus dibendung. Hanya karena ia seorang perempuan Jawa. Namun, ia tetap menulis dan terus meluaskan pemikirannya, dengan membaca, kemudian berkorespondensi dengan sahabat-sahabatnya di Belanda.

Kini, sudahkah kita sebagai generasi muda melakukan hal itu? Hal-hal yang mudah dan terfasilitasi untuk kita lakukan saat ini, hal yang terlihat sederhana. Sebaliknya adalah hal yang sulit dan bagian dari perjuangan seorang Kartini pada masa itu?

Namun pada akhirnya, pemikirannya menginspirasi pemimpin-pemimpin setelahnya untuk bergerak memerdekakan bangsa ini. Perjuangan yang saat ini masih berlangsung, membutuhkan sinergi antara perempuan dan laki-laki. Itulah cita-cita Kartini, cita-citanya yang mulia, Indonesia yang merdeka dan merdesa seutuhnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s