25

Dia percaya usia dua lima bagi masing-masing dari kita, memiliki kebahagiaannya. Kebahagiaan yang tak dapat kita sama ratakan. Kendati demikian, pada usia dua lima juga akan ada banyak pasang mata yang mengecilkan dan mulut-mulut yang mencibir terhadap ‘muda’ itu sendiri.

Dia percaya usia dua lima masih ada dan layak untuk mengisi diri, mendidik otak seiring dengan mencerahkan pikiran. Lebih dari sekedar masa yang mengharuskan manusia untuk berpasangan dan kemudian berketurunan. Masa yang akan membedakan anak manusia dari sekadar gabungan Ayah dan Ibunya. Sebab, kita adalah manusia bukan produk hasil rakitan pabrik.

Pada usia dua lima, dia mendefinisikan dirinya dari hal-hal apa yang berlawanan dengan hati nuraninya — sembari menyerap perbedaan sebagai suatu pembelajaran. Karena itu sudah cukup untuk menjelaskan siapa dirinya.

Manusia dapat dinilai dari apa saja yang membuatnya peduli. Dari apa saja yang membuat manusia itu bersedih maupun bergembira. Mungkin, dua limanya berbeda dengan dua limamu, namun setidaknya ada yang selalu berusaha dia jaga dan tumbuhkan; empati.

***

Tulisan saya kali ini, dan beberapa tulisan saya hingga 33 hari kedepan adalah bagian dari proyek saya bersama Prawira Tampubolon dalam #33HariBagiCerita.

on the (1)

Advertisements

5 thoughts on “25

  1. Pingback: ujuningoluhon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s