Pertama

Pertama

Pertama—adalah kata yang melintas di benak saya dini hari kali ini. Pertama, pertama, pertama, iya, ada banyak hal yang berkaitan dengan kata pertama di dunia ini. Saya pun mencoba mengingat-ingat keterkaitan saya dengan kata pertama.

Saya anak pertama juga cucu pertama dari keluarga Ibu. Semasa bersekolah beberapa kali saya menjadi peringkat pertama. Cita-cita pertama saya adalah menjadi Pengacara. Dan mungkin saja, saya pernah menjadi cinta pertama seseorang.

Perihal anak pertama, saya lahir dalam suku yang menganut sistem patrilineal. Katanya, akan lebih baik bila anak pertama adalah laki-laki atau setidaknya ada anak laki-laki. Saya akui, saya cukup beruntung lahir dalam keluarga Bali yang berpikiran terbuka sehingga orangtua saya mengatasinya dengan tenang. Isu selanjutnya mungkin hanya pada anak pertama yang harus memberi contoh dengan menjadi baik, padahal menjadi baik sebaiknya bukan karena anak pertama.

Perihal peringkat pertama, semakin kemari hal ini semakin saya sadari tidak begitu penting. Kita lebih membutuhkan pemetaan minat, bakat dan kemampuan masing-masing anak daripada terus menerus memisahkan mereka dalam kelas-kelas dan sekat-sekat pendidikan.

Perihal cita-cita pertama, Pengacara adalah kata yang saya ucapkan dengan gamblang pertama kalinya di Sekolah Dasar. Meski kemudian berganti lagi menjadi Arsitek, hingga yang agak absurd waktu itu adalah Astronot. Kemudian, saat memasuki bangku perkuliahan saya memutuskan untuk belajar Ilmu Hukum bukan Psikologi seperti rencana semula. Salah satu jalan untuk kembali pada cita-cita pertama.

Dan perihal cinta pertama, tidak akan lebih bermakna bila dibanding cinta yang terus bertumbuh.

Belakangan saya merasa kita tidak adil terhadap kata pertama. Ada banyak hal yang ingin kita capai dan dengan menjadi yang pertama kita pikir itu adalah jalan paling baik. Tapi juga ada banyak alasan-alasan dan ketakutan yang kita buat dari kata… pertama.

Kita takut mencoba satu hal baru karena itu merupakan pengalaman pertama bagi kita.

Kita takut menjadi yang pertama kalau itu berbeda dan menunjukkan kita sendiri.

Semoga setelah ini, saya dapat berlaku adil bagi pertama, meski ia hanya kata.

 

Advertisements

3 thoughts on “Pertama

  1. Pingback: ujuningoluhon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s