Kota Baca

Petang ini saya menemukan sebuah opini pada portal jurnalisme warga BaleBengong. Surat terbuka terhadap Pemerintah di Kabupaten Tabanan mengenai Perpustakaan Daerah Tabanan. Selain minat baca yang masih harus ditumbuhkan, faktor lain seperti fasilitas pendukung juga masih dipertanyakan. Apalagi untuk melengkapi koleksi buku hinga buku kiri seperti pada opini, bagaimana membuat Perpustakaan menjadi hidup dengan berbagai aktivitas baca dan menarik juga masih saja menjadi pekerjaan besar.

Kemarin, sebelum Wira berangkat ke Afrika, kami bertukar benda. Dia meminjam monopod, (monopod alias tongsis atau tongkat narsis, dan saya iri terhadap monopod yang bisa ikut ke Benua lain) sementara saya meminjam dua buku karya Dee, Gelombang dan Inteligensi Embun Pagi. Dia bercerita jika dulu sengaja membeli dua Gelombang, satu untuk disimpan dan satu lagi untuk dibaca dan dipinjamkan. Saat dia menunjukkan caranya menyimpan Inteligensi Embun Pagi, cukup membuat saya takut bila merusak bukunya saat membaca nanti. Hahaha.

Saya kemudian teringat dengan salah satu teman, beberapa minggu lalu dia menghubungi saya. Dia memohon agar saya membantunya memintakan atau setidaknya menjadi jembatan komunikasi untuk buku-bukunya yang masih ada pada mantan kekasihnya. Sesayang itulah seseorang terhadap buku, dan saya yakin bukan karena sekadar nilai materiil tapi juga immateriil.

Saya beruntung, karena dikelilingi oleh mereka yang menyenangi buku. Atau setidaknya sudah mengetahui jenis buku apa yang mereka sukai untuk dibaca. Tapi kemudian, membaca surat terbuka itu seketika mengingatkan saya pada Kota Baca.

Dua tahun yang lalu, saya dan sahabat saya, Gita-membentuk Kota Baca di Instagram. Kami menyebutnya sebagai konsep baru dari penyewaan buku. Dimana kami sebagai pemilik yang akan mengantarkan buku pilihan pelanggan tepat ke depan pintu rumahnya.  Nama Kota Baca dipilihkan karena kami ingin menyebarkan semangat membaca yang lebih luas hingga ke ruang-ruang publik.

Sebenarnya ada banyak teman-teman yang antusias dengan Kota Baca. Beberapa orang bahkan menjadi pelanggan tetap. Namun, menjalankan Kota Baca sekaligus bekerja bagi saya dan Gita ternyata tidaklah mudah, ditambah lagi bagi saya yang juga menjalani kuliah magister. Dan Kota Baca mati suri.

Kota Baca dalam bentuk lain adalah mimpi saya, mungkin juga mimpi Gita atau siapapun yang mempunyai semangat sama. Sebagai sebuah Taman Baca sekaligus Toko Buku independen di Denpasar. Saya tidak tahu, kapan bisa membangunkannya kembali dan masih dalam nama yang sama. Mungkin lima tahun lagi, atau lebih cepat. Semoga semesta mendukung.

126710
Sumber: instagram.com/the.official.happiness.is
Advertisements

2 thoughts on “Kota Baca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s