Tiket

Sore ini menyempatkan diri menengok facebook dan menemukan satu informasi yang begitu menarik perhatian. Informasi mengenai tiket maskapai penerbangan dari Jayapura menuju salah satu kota di Pulau Jawa yang harganya mencapai 11.000.000,00.

Dalam postingan yang ramai dibagikan ulang ini, saya menemukan banyak komentar. Ada yang berkata bahkan tiket untuk ke Jepang saja tidak akan semahal itu. Ada pula yang mengatakan kalau dengan jumlah uang yang sama bahkan dapat digunakan berkeliling negara-negara di ASEAN. Perbandingan yang mereka gunakan mungkin terlihat sederhana, tapi bagi saya itu sama sekali tidak salah. Pemerintah seharusnya ambil andil dalam hal ini.

Dulu sekali, sekitar tahun 2012 saya pernah menulis dalam status facebook mengenai keresahan betapa timpangnya negeri ini. Saya ambil contoh mulai dari pilihan pemberitaan yang jakartasentris. Tanpa disangka beberapa teman yang tinggal di Ibukota tidak terima. Bagi mereka, sebelum saya seenaknya bicara seharusnya saya merantau ke Jakarta. Supaya saya tahu bagaimana dinamisnya Jakarta, sehingga memang berhak untuk mendapat porsi 80% dari pemberitaan nasional.

Saat itu saya dalam saving energy mode untuk sekadar mengklarifikasi kalau saya sudah pernah merasakan Jakarta. Saya berpikir, mungkin saya salah tempat dan facebook bukan merupakan tempat yang tepat. Atau bisa jadi keinginan saya beropini pada status facebook hanya semangat sesaat anak Pers Mahasiswa yang baru menghabiskan buku-buku kajian media. Maka, saya melanjutkan kegiatan lain.

Perbedaan saya dan mereka yang berkomentar itu mungkin adalah saya cukup beruntung. Saya cukup beruntung pernah merasakan tinggal di Pulau Tarakan -pulau kecil perbatasan Indonesia dan Malaysia. Pulau dimana unsur Indonesia dan Malaysia beradu dengan seimbang. Dalam kehidupan berekonomi misalnya, tabung gas mayoritas yang digunakan adalah milik Malaysia, demikian pula dengan air kemasan hingga makanan ringan. Apa mereka tidak nasionalis hanya karena berpikir berulang kali untuk membeli tabung gas kita dengan harga 5 hingga 6 kali lipat dari harganya di Pulau Jawa? Tunggu dulu, cobalah juga untuk berpikir ulang. Sungguh, itu semua merupakan potret masa kecil yang membekas hingga kini.

Hari ini, saya melihat bagaimana biaya transportasi dibanding mempersatukan justru memperlebar jarak antara Indonesia Barat dan Indonesia Timur. Katanya globalisasi itu semudah kita bisa sarapan, makan siang dan makan malam di tempat bahkan negara yang berbeda.

Jika memang mudah, bukankah egois bila kita menginginkan orang-orang Indonesia lainnya untuk mendatangi Jakarta? Mengapa bukan mereka yang tinggal di Ibukota untuk mencoba sesekali keluar? Keluar untuk lebih mengenal Indonesia.

Meski sekali lagi, tiket (masih) menjadi kendala.

tiket

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s