Dan Tuhan Tertawa

Apakah setiap dari mereka yang berkecimpung di bidang sosial selalu dilatar belakangi oleh keinginan yang tulus? Sungguh, ini bukan area saya. Saya tahu itu -karena esensi tulus ada untuk dirasa si penerima.

Pertanyaan itu muncul begitu saja di benak saya karena pengalaman tidak mengenakan hari ini. Pengalaman yang dilatari keinginan untuk sekadar bertanya pada yang lebih dulu mengetahui. Ditambah beberapa kejadian belakangan, dimana begitu banyak orang membuat program sosial dadakan untuk mengejar penghargaan.

Setiap orang memiliki motivasi masing-masing yang tentu tidak bisa disalahkan. Seperti saya misalnya, yang menulis pos ini karena merasa perlu untuk dibagikan (dan juga penting demi memenuhi tantangan 33 Hari Bagi Cerita). Haha, sudahlah.

Saya kemudian sampai pada pertanyaan berikutnya, mengapa sulit untuk mempersatukan orang-orang (yang merasa) baik?

Ego. Sayang sekali, bagi siapapun yang merasa mereka baik harus mengakui hal ini.

Ego yang tinggi masih harus direndahkan. Jiwa yang terang selain memang dibutuhkan nyalanya juga masih harus dibesarkan, untuk berkolaborasi, saling mencari dan mau berkumpul.

Merapikan rumah seluas Indonesia tentu lebih sulit bila dikerjakan sendiri-sendiri. Maka bila di negeri ini ada kejahatan terorganisir kita memerlukan lebih banyak lagi kebaikan-kebaikan kecil yang diorganisir.

Atau mungkin juga karena dunia memang sedemikian abu-abu. Dan Tuhan pun menertawakan kita. Selamat malam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s