Jadi Masih Mau Punya Anak?

Dalam kurun waktu kurang dari dua puluh empat jam, saya mendengar setidaknya Wira Tampubolon bertanya sebanyak dua kali mengenai… “Masih mau punya anak?” Entah dia bertanya pada saya atau pada dirinya sendiri. Hahaha.

I’m a big fan of children. Basically, every child that I met. Bukan karena mereka sekadar menggemaskan, tapi ada banyak hal yang bisa diajarkan mereka. Bahkan hanya dengan genggaman tangannya saja bisa buat melayang-layang. Maka sejak dulu bila sahabat saya bertanya, mengapa harus pencerita? Sebenarnya jawabannya adalah sesederhana saya ingin bergantian mendongengi anak saya kelak.

Tapi, seiring trend pernikahan (maksudnya?) dan lingkungan yang lebih dulu berumah tangga maka semakin saya sadari jika menjadi orangtua adalah pekerjaan besar. Menjadi orangtua itu tidak mudah, seperti yang saya tuliskan beberapa hari lalu, (Menjadi) Ibu tidak mudah. Apalagi di era millenials. Era yang serba cepat, dan penuh persaingan. Tidak ada yang lebih pasti selain perubahan itu sendiri.

“Anak adalah rejeki…” atau “Anak adalah titipan Tuhan.”

Iya, semua memang tergantung perspektif. Tapi bagi saya kehadiran anak memang anugerah tapi di sisi lain bukan lagi untuk membantu orangtua seperti konsep yang biasa diusung tetua kita. Anak adalah sumbangan kita pada jaman, pada dunia, pada negara, pada lingkungannya bertumbuh.

Sejak awal, saya memisahkan antara memiliki pasangan hidup dengan memiliki anak. Maka kalau saya menikah dan berumah tangga, artinya saya memilih dan dipilih orang tersebut untuk menjadi teman hidupnya. Itu adalah dasar dan yang utama.

Persoalan memiliki anak adalah persoalan yang berbeda lagi. Tidak semua yang siap menjadi Istri atau Suami kemudian langsung siap menjadi Ibu atau Ayah, karena keduanya adalah peran yang berbeda. Bahkan kehadiran peran berikutnya bukan meniadakan peran sebelumnya.

Nyatanya, kita hidup di tengah masyarakat yang masih meyakini tahapan hidup adalah persis sama. Kamu lahir, kamu bersekolah, kamu berkuliah dan kemudian kamu menikah maka selamat kamu akan bahagia.

Padahal, menikah adalah hak bukan suatu kewajiban.

Mempunyai anak pun, di era yang penuh tantangan ini dan dengan keinginan untuk memberi yang terbaik merupakan sebuah pilihan bagi kita.

Dan di sisi lain, betapa malangnya anak-anak kita yang tidak bisa memilih untuk terlahir atau tidak. Mungkin saja mereka memilih untuk… tidak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s