Dalam Lelucon

Ada saat-saat dimana dia mencoba menertawakan segala tentangmu. Menertawakan bagaimana mereka memujamu. Mungkin seperti malam ini, saat Bulan lebih memilih bersembunyi.

Kenyataannya, kehidupan menempatkanmu dan dirinya dalam lelucon sejak awal mula.

Dalam lelucon itu, hanya dia yang kemudian memahami betapapun saat seluruh dunia seolah membencimu. (Tapi semoga saja tidak).

Dalam lelucon itu, hanya dia yang bersedia membakar jembatan bersamamu dan terlahir kembali. (Tapi semoga saja tidak).

Kabar buruknya, dia sulit untuk jatuh cinta.

Kabar baiknya, setiap kali jatuhnya selalu lebih dari dahulu.

Namun, bagaimana bila jatuhnya hanya pada satu rangkaian nama, lagi dan lagi?

Pada akhirnya kita tak pernah memaksa untuk jatuh, kita hanya tersandung. Dan Perjalanan, itulah sebaik-baiknya jalan untuk cinta.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s