Jadi Masih Mau Punya Anak? (2)

Kita –orang-orang di negeri ini, mungkin terlalu jumawa untuk menyadari kalau kita belum mampu menjadi orangtua yang baik. Anak-anak, siapapun anak-anak itu, yang hadir di hidup dan lingkungan kita, mereka sebenarnya adalah anak kita. Anak peradaban.

Tapi, jangankan untuk memberikan yang terbaik dalam pendidikan, untuk melindungi mereka saja kita masih sering terlupa. (Atau melupakan?)

Kemudian ketika masanya mereka beranjak dewasa, di saat semua semakin timpang. Hingga akhirnya kita menyalahkan ketidaktahuan mereka dan ketidaktahuan sebagian dari kita.

Kita bisa saja membenci orang-orang yang tidak berpendidikan, namun pangkal dari semuanya adalah karakter kita yang sudah memudar. Hingga hari ini, ada banyak kejahatan kerah putih dari mereka yang mengaku berkuasa dan berpendidikan tinggi. Sebab, semua orang punya karakter tapi tidak setiap orang berkarakter.

“Yang seperti ini nih, yang buat aku berpikir panjang untuk memiliki anak…” saya berkata pada Ari, salah satu sahabat saya selepas berkunjung ke beberapa keluarga.

“Kenapa?”

“Karena toh sebenarnya tanpa kita memiliki anak pun, masih ada banyak yang bisa kita bantu…”

Ari terdiam sejenak, “Iya, aku juga sempat berpikir begitu. Tapi, sulit untuk menemukan pasangan yang memahami pemikiran kita ini.”

Kami pun tertawa bersamaan sebelum akhirnya fokus pada kertas masing-masing.

Jadi, masih mau punya anak? Jawabannya masih, karena anak bukan hanya sampai pada perkara biologis.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s