Bumi Setara; Awal Mula

Satu tahun lalu, tepatnya 15-16 Agustus 2015 melalui Ari, saya diperkenalkan dengan Mbak Vivi. Uniknya, pada hari kami berkenalan kami langsung terlibat kemah bersama di Bukit Asah, Karangasem bersama beberapa teman yang lainnya, termasuk Kak Siska dan Bali Deaf Community (BDC). Saya masih ingat, dalam dua hari itu kami belajar banyak mengenai Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) termasuk menyanyikan Indonesia Raya dalam Bisindo bersama teman-teman Tuli. Tentu saja karena saat itu masih dilingkupi suasana kemerdekaan Republik Indonesia ke-70.

Memori itu membawa saya kembali pada hari ini, satu hari setelah hari kemerdekaan Indonesia yang ke-71. Ari Bathilda, Vivi Nuril, Siska Desiyanti dan saya, kami berempat masih bersama. Kami bersama-sama melahirkan Bumi Setara. Sebuah proyek sosial yang lahir bukan dari rahim melainkan dari pemikiran serta kegelisahan kami pada lingkungan. Pada dua isu utama, difabel dan pendidikan.

Embrio mengenai Bumi Setara muncul di awal tahun 2016, saat itu Ari yang sedang pulang dari belajarnya di Universitas Gajah Mada (UGM) menceritakan mengenai obrolannya di sana mengenai kesempatan mendapat beasiswa bagi siswa difabel yang dinilai masih minim dan kualitas pendidikan yang masih rendah. Kami kemudian bersepakat untuk melakukan tindakan kecil dengan mengumpulkan donasi masyarakat dan mengelolanya. Sasaran utama sebagai donatur adalah teman-teman sebaya. Kami menganggap pendekatan secara persuasif pada mereka yang sebaya tentu akan lebih mudah. Selain itu kami ingin mengetengahkan isu kemudahan akses pendidikan tanpa terkecuali.

Saat itu, proyek ini bahkan belum memiliki nama. Setelah Ari kembali ke Yogyakarta dan tersisa kami di Bali, berbekal ponsel pintar kami melakukan banyak pertemuan secara virtual untuk mematangkan proyek kami. Mulai dari memikirkan logo yang dibantu oleh Swakarma Satwika, mematangkan mengenai tingkat sekolah sasaran penerima beasiswa, jenis difabel sasaran penerima beasiswa hingga detil lainnya. Iya, Bumi Setara adalah proyek jarak jauh namun dengan sepenuh hati.

139523

Dalam perjalanannya, kami tahu ini tidak akan mudah (tidak satu pun dari kami yang merupakan difabel, tidak semua dari kami fasih dalam berbahasa isyarat) tapi kami percaya, semua itu bukan berarti tidak mungkin. Kami menjelaskan Bumi Setara sebagai sebuah program beasiswa yang ditujukan bagi siswa maupun siswi difabel dimulai dari Bali. Kami menerapkan administrasi keuangan sebaik mungkin sejak awal, sekalipun kami bekerja dengan sifat kesukarelawanan. Sebab, kami merencanakan Bumi Setara dapat menjadi lebih baik dan lebih besar untuk kemudian menjangkau lebih luas lagi.

Sebagai pilot project untuk tahun ajaran ini kami memiliki tiga penerima beasiswa di tingkat Sekolah Dasar Luar Biasa B, semuanya adalah siswi Tuli. Pemilihan siswi maupun jenis difabel Tuli bukan disengaja, melainkan sesuai dengan sistem penilaian dan survey lapangan yang telah kami jalankan. (Cerita saat survey dapat disimak di sini).

138935

Sementara, pengumpulan dana untuk Bumi Setara melalui donatur tetap telah dimulai sejak bulan Mei  lalu. Donatur tetap adalah masyarakat yang bersedia mengikatkan dirinya untuk menyumbang 100.000,00 setiap bulan dalam jangka waktu satu tahun ajaran.  Berbeda dengan donatur bebas yang tidak terikat nominal dan jangka waktu.

Hari ini, satu hari setelah peringatan kemerdekaan ke-71 negara ini, bagi saya setiap harinya sejak 71 tahun lalu kita telah merdeka. Saya tidak ingin kembali memperdebatkan kemerdekaan seperti yang lalu-lalu. Nusantara, dahulu bahkan tidak dibangun hanya dalam satu malam seperti membangun Candi  dalam kisah Roro Jonggrang. Tantangan kita adalah untuk mewujudkan kemerdekaan-kemerdekaan yang lebih dekat bagi beberapa kelompok dengan memeratakan roti pembangunan.

Seratus ribu mungkin tidak akan mengubah duniamu (mungkin juga hanya akan mengurangi jatah 2 Cup Starbucks-mu dalam sebulan) tapi percayalah, jumlah itu mampu mengubah dunia bagi beberapa orang.

Salam,

Bumi Setara

139527

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s