Ruang Pembuka

Merekam Bali bukan kegiatan fotografi, vlog apalagi film dokumenter. Merekam Bali adalah proyek menulis bersama dengan teman-teman saya, Eka Mulyawan, Happy Ary, Widyartha Suryawan dan Saka Agung. Masing-masing dari kami berlima memiliki latar belakang pendidikan juga keilmuan yang berbeda dan tentunya perspektif yang berbeda terhadap Bali. Saya masih belajar di Magister Ilmu Hukum Universitas Udayana dengan konsentrasi Hukum Kepariwisataan, Eka merupakan Junior Arsitek, Happy seorang pemerhati kesehatan yang sedang bermarkas di Sloka Institute, Surya yang baru saja lulus dari FISIP Universitas Udayana dan Saka Agung merupakan Peneliti di bidang perikanan.

Pada awal bulan September ini, kami bersepakat untuk mengkonkretkan rencana lama, suatu proyek menulis bersama yang kemudian kami namakan #MerekamBali. Mengapa  Bali? Karena kami tidak ingin menjadi orang-orang yang clueless dengan tempatnya bermukim. Selama delapan minggu ke depan, kami akan merekam Bali melalui tulisan secara bergantian setiap pekan di blog masing-masing. Saya setiap hari Senin, Eka pada hari Selasa, Happy pada hari Rabu, Surya pada hari Kamis dan Saka Agung pada hari Jumat.  Meskipun mempunyai bidangnya masing-masing, kami juga akan menulis Bali sebagai apa yang kami pandang, tidak selalu  harus serius dan tidak selalu harus seragam. Bebas.

merekambali-1

Bali sendiri memiliki banyak dimensi, Bali sebagai satu pulau bagian dari Sunda Kecil, Bali sebagai satu Provinsi hingga Bali sebagai komoditas dan branding. Maka pada tulisan pembuka ini, saya ingin memandang Bali sebagai orang yang kini tinggal di Bali, lahir di Bali namun besar di perantauan. Bagaimanapun bagi saya Bali adalah rumah, bukan karena nama besarnya tapi karena orang-orang yang tinggal di dalamnya dan apa yang dianugerahkan pada Bali itu sendiri. Orang Bali menyebutnya taksu.

Ada banyak jargon untuk mempromosikan Bali, ada banyak cara untuk tiba di Bali. Ada banyak juga cara untuk teringat tentang Bali, sebut saja dengan mendengar lagu Lembayung Bali dari Saras Dewi atau Kuta Bali milik Andre Hehanusa. Tapi tidak semua paham bagaimana memperlakukan dan mencintai Bali. Tentu bukan dengan menyamakannya dengan berbagai destinasi pariwisata megah dan terkenal lainnya.

Saya masih ingat betul bagaimana Bali –terutama wilayah Denpasar dan Badung semasa saya anak-anak, meski hanya saya kunjungi  setahun sekali di saat liburan kenaikan kelas. Bali saat itu adalah Bali yang berbeda dengan hari ini. Pembangunan menjadi kata kunci yang membuat perbedaan tersebut. Perbedaan bukan hanya pada aspek tata kota misalnya, tapi juga sosial budaya. Pembangunan Bali lima tahun belakangan telah mencapai titik berlebihan yang tidak mengindahkan keberlanjutan. Maka, cara untuk mencintai Bali sesungguhnya dengan memberikannya ruang.

Terlihat sederhana, namun pada pelaksanaannya tidak sesederhana itu. Sebab, dimana ada masyarakat di situ ada hukum. Kesemuanya akan saya coba tuangkan pada tulisan-tulisan selanjutnya.

NB: Pada pertengahan proyek, kami kedatangan satu anggota tambahan yaitu Anton Muhajir seorang Jurnalis Lepas yang akan mengisi setiap hari Sabtu.

Advertisements

One thought on “Ruang Pembuka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s