Kepada Gus Dur, tentang Potret Presiden di Dinding Rumah Mbah

Salam Kiai Haji Abdurrahman Wahid,

Tapi Mbah saya lebih suka memanggil Gus Dur, begitu pula dengan saya.

Mbah kini berusia 81 tahun. Masih cukup sehat bagi orangtua seusianya. Sayangnya, ada satu cita-citanya yang tak mungkin tercapai: bertemu dan berdiskusi dengan seorang Gus Dur. Saya rasa bukan karena Gus Dur merupakan presiden keempat di republik ini; Mbah memang mengidolakanmu, Gus. Sampai-sampai beberapa orang berkata kalian memiliki kemiripan.

Ah, tapi bisa juga karena saking bangganya Mbah kepada Anda. Terbukti hingga hari ini foto presiden yang dipajang di dinding ruang tamu tetaplah foto Anda, meski empat belas tahun telah berlalu.

Bersama Mbah, Gus, saya tidak merasa sepi. Selalu ada teman berdiskusi yang baik, tak akan lekas menyalahkan bila punya pandangan berbeda. Mungkin itu semua karena Mbah telah melewati berbagai peristiwa di negeri ini, mulai dari masa kelam 1965, reformasi, hingga Indonesia hari ini.

Mbah saya seringkali berkata, “Tidak penting apapun agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu.” Beberapa tahun belakangan saya baru mengetahui bahwa kutipan itu berasal dari Anda.

Terima kasih, Gus, atas kebijakan-kebijakan lalu yang berpihak pada mereka yang disebut minoritas. Indonesia hari ini, Gus, tidak teramat buruk. Namun tentu saja masih sangat banyak yang harus dibenahi.

Mbah mungkin kesulitan merangkum visimu dan menceritakannya kepada cucu-cucunya, termasuk saya. Namun, ia satu dari sekian orang yang memiliki kesepahaman denganmu. Belakangan saya mencoba mencari lebih banyak wawasan tentangmu selain dari cerita-ceritanya.

Di saat kini Gus sudah beristirahat dengan tenang, saya tidak yakin bila Gus mengetahui bahwa meskipun perkataan Gus itu telah banyak yang mengutip, namun ternyata belum mengena pada hati setiap manusia Indonesia. Begitu banyak kekerasan atas nama agama, hanya saja terasa sulit bagi kita untuk membuka mata. Atau mungkin karena kita kurang percaya diri atas apa yang kita yakini?

Mereka sebut Gus Dur adalah seorang pendobrak; saya juga meyakini hal itu. Tapi, saya lebih meyakini lagi bahwa kita memerlukan lebih banyak pendobrak. Di saat yang lain berbicara serius, Gus Dur melawan dengan lelucon. Sayang, pada masa itu stand up comedy belum menjadi tenar di Indonesia.

Maka, Gus, ijinkanlah saya bercerita lebih jauh tentang pengamatan dan pengalaman saya pada hari-hari belakangan di negeri ini. Indonesia adalah nama yang sangat saya kenal. Pada usia taman kanak-kanak biasanya angkatan kami sudah dikenalkan mengenai negeri indah bernama Indonesia. Namun, belum tentu kami yang sudah besar hari ini telah mengenal Indonesia dengan segala persoalan dan kekuatannya.

Indonesia sangatlah luas. Kita sering melupakannya dan menganggap beberapa persoalan ibukota menjadi persoalan negara. Sementara, banyak daerah yang kita lupakan. Ketahuilah, Gus, ini bukan sekadar pemerataan pembanguan infrastruktur tapi juga pembangunan manusia. Saya yakin, Gus, semua itu sudah Anda pahami, namun belum sempat Anda benahi.

Pemerintah saat ini gagal dalam melindungi seluruh tumpah darah, terutama sekali lagi mereka yang disebut minoritas. Begitu banyak tindakan main hakim sendiri atas nama agama. Membela Tuhan dianggap sesuatu yang wajib manakala nyawa manusia dianggap sebagai barang murahan. Menyedihkan, bukan?

Kearifan lokal belakangan juga menjadi barang jualan, pesisir ingin dijual, digantikan dengan timbunan pasir. Semua itu, Gus, karena perselingkuhan antara pengusaha tamak dengan pemangku kebijakan yang bermuara pada uang. Kami dipaksa berdamai dengan merelakan alam, tapi sekali lagi, Gus, seperti apa yang pernah Anda katakan bahwa perdamaian tanpa keadilan adalah ilusi, bukankah demikian? Maka kami tidak akan menyerah.

Selamat petang, Gus, saya pamit dahulu bergegas ke rumah Mbah. Mungkin hari ini kami akan bercengkerama banyak hal,  ia akan mengulang cerita yang sama tentang Anda. Mungkin juga ia akan meminta saya membersihkan bingkai foto di ruang tamu rumahnya, yang di dalamnya terdapat foto Kiai Haji Abdurrahman Wahid.

Denpasar, Juni 2015

*telah dimuat sebelumnya pada situs Logika Rasa

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s