Terima Kasih Annika, Karena Cahaya-Cahaya Inspirasimu

Hai Annika, bila surat ini sampai di tempatmu mungkin kau telah memahami apa yang ingin kukatakan, ucapan terima kasih. Tapi, lanjutkanlah sedikit lagi pada barisan-barisan cerita dariku berikutnya.  Selama ini, aku sudah sangat banyak mendengar cerita tentang dirimu, maka kali ini bacalah ceritaku dalam surat ini.

Kita belum pernah saling bertemu dan bertegur sapa, namun kita memiliki keterikatan satu sama lain. Aku bekerja untuk namamu, Annika Linden Centre. Annika Linden beberapa tahun belakangan juga menjadi sebuah nama untuk satu gedung. Mereka berkata gedung ini sangat  indah dan asri dengan kebun di belakangnya. Tapi aku pastikan, keindahan gedung ini bukan semata karena bentuk fisiknya tapi juga cahaya-cahaya inspirasi yang kau hadirkan. Ya, kau hidup di dalamnya.

Ibu Annika, mungkin begitu aku akan memanggilmu bila kita sempat berjumpa. Banyak yang berkata bila setiap orang pasti punya cerita, ceritamu adalah salah satu kisah cinta favoritku. Meski tak seindah kisah cinta Habibie dan Ainun yang mengarungi bahtera rumah tangga atau justru setragis kisah cinta Romeo dan Juliet yang mati karena bunuh diri bersama. Kisah cintamu mampu menyentuh banyak kehidupan.

Bekerja bukan hanya mencari penghidupan, itulah yang kumaknai saat bekerja untuk namamu. Bila secara materiil aku mendapat satu, maka secara immaterial aku dapat lebih dari itu. Di sana aku mendapati bila cinta kasih adalah sesuatu yang nyata, antara Ibu terhadap anaknya yang Cerebal Palsy, antara Ayah dan anaknya yang Hydrocepalus maupun antara mereka yang mendapat ‘kaki-kaki’ baru, hingga mereka yang merasakan kemerdekaannya begitu menerima alat bantu.

Hari ini, pada tiga belas tahun yang lalu, kau mungkin berada pada tempat dan waktu yang akhirnya merenggutmu dari kekasihmu Mark, dari orang-orang yang menyayangimu saat itu. Mereka menyebutnya sebagai Bom Bali I, peristiwa yang menghentak perhatian dunia saat itu. Tapi mereka — teroris-teroris itu tidak akan pernah menang. Sebab kini kau hidup dibanyak kehidupan, di banyak hati, jiwa dan dibanyak tempat, menembus waktu.

Aku sangat menyukai petikan sajak yang kau tulis, hingga ingin kubagikan dengan siapapun yang juga membaca surat ini…

“I have faith, yet I have no religion.

I have knowledge, yet I don’t understand.

I have vision, yet I cannot see reason.

I walk free, free of hatred.

I touch you, touch with compassion.

I have life, life in your heart.”

Terima kasih Annika, karena cahaya-cahaya inspirasimu.

Annika Linden Centre, 12 Oktober 2015

*telah dimuat sebelumnya pada situs Logika Rasa

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s