Komunitas, Gerakan dan Semangat Kesukarelawanan

Manusia sebagai mahluk individu namun sekaligus mahluk sosial, selalu ingin mendapat kesempatan untuk mengaktualisasi diri. Bergabung dalam komunitas sebenarnya merupakan suatu yang tidak terelakan melainkan menjadi kebutuhan. Sebagai bagian dari masyarakat, manusia tumbuh dan berkembang dalam komunitas. Komunitas dalam hal ini ialah sekumpulan orang yang memiliki persamaan kepentingan atau ketertarikan pada suatu nilai. Komunitas sendiri sebenarnya memiliki banyak macam, ada komunitas yang berbasis geografi seperti warga komplek perumahan, komunitas yang berbasis hobi, misalnya saja komunitas fotografi atau otomotif, komunitas yang berbasis politik seperti partai dan ada juga komunitas yang berbasis pada gerakan.

Komunitas berbasis gerakan ini yang beberapa tahun belakangan banyak muncul di beberapa kota besar di Indonesia, termasuk Denpasar sebagai kota dan Bali sebagai suatu pulau. Komunitas dengan basis gerakan mendorong lahirnya sebuah aksi yang disebut sebagai kesukarelawanan. Selain orang yang berhimpun, di dalamnya juga dihimpun berbagai sumber kekuatan yang dimiliki oleh anggota komunitas. Semuanya berdasar pada semangat dan kepercayaan terhadap hal yang sama dan tentunya tanpa bayaran.

Di belahan dunia barat yang identik dengan modernitas dan kental akan nilai individualistis, semangat yang sama juga telah hidup. Kegiatan kesukarelawanan menjadi salah satu pilihan untuk satu tahun sebelum menginjak masa kuliah yang dikenal sebagai gap year. Tindakan kesukarelawanan bahkan menjadi suatu aksi afirmasi. Beberapa perusahaan dan aplikasi beasiswa mewajibkan setiap pelamarnya untuk memiliki pengalaman kesukarelawan. Umumnya perusahaan meyakini bila seseorang dapat merawat komitmen dan konsistensinya  tanpa dibayar, maka hal yang sama juga akan terjadi saat mereka memasuki dunia kerja.

Kendati kehidupan sukarelawan dan berkomunitas berkat platform media sosial kini menjadi trend, penggiat yang ditemukan di lapangan pada beberapa kota justru masih berputar pada orang-orang yang sama. Semangat kesukarelawanan oleh sebagian orang, juga kerap kali disalah kaprahkan hanya pada konteks politik, terutama bila mendekati tahun-tahun politik di suatu daerah maupun negeri ini. Padahal, seperti yang telah diungkapkan di atas, semangat yang mendorong adanya gerakan tidak selalu berasal dari semangat pemenangan. Mari kita lihat, semangat untuk berbagi wawasan dan pengetahuan dari praktisi yang dihidupkan oleh Akademi Berbagi, semangat untuk berkebun sekalipun  dengan memanfaatkan lahan seadanya di perkotaan oleh Indonesia Berkebun maupun semangat untuk menjadikan beperjalanan bukan hanya kegiatan bersenang-senang untuk diri sendiri, melain sekaligus membagi pengetahuan dan semangat pada anak-anak di daerah terpinggirkan yang dijalankan oleh 1000 Guru. Bagi sebuah gerakan oleh komunitas, usia dari beberapa contoh yang saya sebutkan sudah teruji dan mampu tersebar di beberapa daerah di Indonesia.

Dinamika sosial ini menjadi semakin menarik bila kita kaitkan dengan kehidupan beragama serta adat dan istiadat yang telah terlebih dahulu berakar di Bali. Sebenarnya semangat kesukarelawanan itu sudah ada di dalamnya. Namun, ketika hal tersebut dibawa pada tatanan kehidupan yang kita sebut lebih modern atau kekinian banyak yang merasa enggan. Akibatnya, semua berjalan masing-masing. Sayang sekali, kekuatan yang dimiliki oleh kehidupan adat di Bali dan semangat berkomunitas saat ini belum benar-benar berkolaborasi. Padahal, kolaborasi yang tepat di sini, akan mendatangkan manfaat dari, oleh dan untuk kita.

Membangun Indonesia dan membangun daerah dimana kita tinggal juga dapat diyakini sebagai sebuah gerakan dimana kita sebagai warga negara adalah komunitasnya. Tentu bukan gerakan yang singkat, namun tentu akan terus berlanjut hingga tercapai tujuan meski bukan kita yang menikmati. Melalui kesukarelawanan kita bisa memecah diri sesuai dengan minat maupun perjuangan dan menjadi bagian kecil dalam gerakan besar membangun negeri. Semangat menjadi relawan adalah semangat yang harus dihidupkan kembali dimana saja, kapan saja dan dengan semangat positif apa saja.

Setiap orang memiliki kapasitas atau kualitas yang dapat dibagikan bagi lingkungan, setidaknya tenaga maupun waktu untuk direlakan. Bayangkan bila ruang-ruang publik di Bali benar-benar dimanfaatkan dengan baik, bukan hanya Taman Kota melainkan juga Balai Banjar dan Sekeha Teruna yang mampu berkolaborasi dengan tiap komunitas dan gerakannya. Semua akan memberi nilai tambah tersendiri dan memperbesar dampak sosial. Apa yang saya tuliskan, sebenarnya sudah dijalankan oleh gerakan Bali Tolak Reklamasi, gerakan yang telah mencapai usia empat tahun dan terus konsisten antara Pasubayan Adat hingga berbagai elemen. Gerakan ini bisa dijadikan sebagai suatu refleksi. Selanjutnya? Mari mulai dari yang sederhana namun signifikan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s