Bali, Festival dan Literasi

Bali dalam hal ini Denpasar mungkin bukan seperti Surabaya yang disematkan gelar sebagai kota literasi. Namun, di pulau Bali pada setiap akhir tahun selalu dihelat sebuah festival tingkat internasional untuk penulis dan pembaca. Karenanya, Bali dengan literasi memiliki hubungan yang erat. Setidaknya begitu di mata beberapa teman saya yang merupakan penulis. Apakah benar demikian?

Menjauh sedikit dari keriuhan Ubud pada minggu ini, di Denpasar sekalipun beberapa hari belakangan diadakan pameran buku. Namun, apakah memberi pengaruh besar pada minat baca masyarakat ?

Bagi saya, buku murah saja pada satu waktu tertentu tidaklah cukup, yang kita butuh adalah akses. Karena di pulau yang katanya surga ini pun, masih ada sekolah sekolah yang akses pengetahuan selain melalui guru dengan jumlah yang terbatas adalah lewat buku-buku. Dan persoalan muncul ketika mereka tidak memiliki perpustakaan yang mumpuni.

Maka, pertanyaan baru yang dimunculkan dari pameran buku ini mengingatkan saya pada gerakan seorang kawan. Juli Sastrawan menginisiasi sebuah gerakan bernama Literasi Anak Bangsa. Melalui platform crowdfunding Kita Bisa, ia  juga melakukan penggalangan dana untuk perpustakaan jalanan yang ia dirikan. Mengapa perpustakaan jalanan? Karena setiap orang butuh membaca dan tidak terkecuali mereka yang di jalanan.

Oksimoron lain yang ingin saya rekam dari Bali berkaitan dengan literasi ada pada fasilitas publik perpustakaan daerah. Sebenarnya, sudah lebih dari satu tahun saya tidak berkunjung ke perpustakaan daerah. Tadinya demi tulisan kali ini saya ingin menyempatkan berkunjung (mungkin kunjungannya akan saya lakukan dan update beberapa hari ke depan), sekadar melihat kondisinya yang mungkin saja membaik. Iya, bagi saya kondisi perpustakaan daerah sedemikian buruknya. Padahal perpustakaan daerah adalah cermin tingkat literasi masyarakat di daerah tersebut, dalam hal ini Bali.

Saya pun teringat jika beberapa bulan yang lalu Mbak Retno Sofyaniek juga sempat mengirimkan tautan tulisannya mengenai kondisi perpustakaan daerah Bali, selengkapnya bisa dibaca di sini. Mulai dari koleksi buku, ruang baca hingga kartu perpustakaan.

Bagian yang paling saya perhatikan adalah kartu keanggotaan. Kartu keanggotaan perpustakaan daerah melalui tampilannya saja sudah semacam nostalgia masa Sekolah Dasar. Saat saya cek kembali kartu perpustakaan lain di dompet, seperti Perpustakaan Freedom Institute – Jakarta, saya menemukan kondisi yang berbeda. Kartu ini terlihat lebih modern dengan penggunaan barcode. Cukup untuk mencerminkan tata kelola yang baik. Bila kita menganggap itu semua karena Perpustakaan Freedom Institute adalah milik swasta, saya rasa bukan alasan pembenar. Sebab hal yang sama baiknya juga ada pada kartu perpustakaan nasional yang saya buat saat di ibukota.

Semoga saja rekaman tentang kondisi perpustakaan daerah ini tidak bertahan lama.

Jika berbagai pihak di luar pemerintah provinsi begitu peduli dan bergerak, pemerintah pun seharusnya lebih sigap untuk berbenah, bukan? Bukan hanya festivalnya saja yang bertaraf internasional, apalagi stadion sepakbola (dan kabarnya akan dibangun sirkuit balap internasional), perpustakaan daerah pun seharusnya bisa sama baiknya.

Jangan sampai seperti kata seorang penyair bernama Aan Mansyur. Kita berpikir bahwa kartu kredit lebih penting daripada kartu perpustakaan. Karena kita hidup di kota yang jumlah Mal dan ATM-nya jauh lebih banyak daripada perpustakan.

Karena kita hidup di provinsi yang teluknya terancam diurug untuk membangun pusat pariwisata, yang bahkan mungkin tidak terpikir untuk memasukan fasilitas perpustakaan publik di dalamnya.

whatsapp-image-2016-10-31-at-09-33-06
Salah satu alternatif saat ini. Namun layanan publik yang baik tetap harus dipenuhi. 
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s