Ketika Mal Mal Bertumbuh

Akhir pekan lalu merupakan soft opening sebuah Mal di kawasan Teuku Umar, Denpasar. Bangunan tersebut sebelumnya dikenal dengan nama Denpasar Junction. Sebelumnya bangunan ini telah beberapa kali bermasalah dalam pemenuhan syarat perizinan. Ada juga beberapa keluhan dan kekhawatiran dari warga sekitar, mulai dari kekuatan bangunan, limbah bangunan, kajian sosial, lahan parkir yang minim hingga kemacetan yang mungkin ditimbulkan.

Selain Mal baru di kawasan Teuku Umar, beberapa waktu mendatang juga akan dibuka pusat perbelanjaan di kawasan Renon, Denpasar. Proses pembangunannya pun memakan waktu yang sama lamanya, meski saya kurang mengikuti apakah Mal tersebut sempat terkendala proses pemenuhan syarat perizinan juga atau tidak.

Sebagai daerah pariwisata dan salah satu kota dengan biaya hidup tertinggi di Indonesia (versi survei daring Qerja), tentu berdirinya sebuah pusat perbelanjaan seperti Mal tidak lepas dari potensi dan permintaan yang ada. Walaupun demikian, kita tidak bisa menampik untuk ukuran sebuah kota dengan luas yang terhitung kecil, Denpasar sebenarnya sudah kewalahan dalam menampung berbagai bangunan.

Dalam suatu percakapan dengan salah seorang Dosen, saya ingat beliau sempat menyampaikan perihal Denpasar yang tidak pernah direncanakan menjadi ibukota Provinsi Bali. Denpasar hadir dan didaulat begitu saja, tanpa adanya perencanaan matang. Maka tidak mengherankan bila Denpasar kini ada ada pada kondisi menantang untuk ditata. Kota mungil yang tidak mau kalah dengan (konon) perkembangan zaman dan disesaki berbagai kebutuhan, termasuk sarana rekreasi semacam Mal.

Kedua Mal baru ini berada pada jalan arteri Kota Denpasar, dibutuhkan fungsi perizinan yang baik untuk keduanya sebelum benar-benar dibuka. Izin sendiri merupakan perbuatan Hukum Administrasi Negara bersegi satu yang diaplikasikan dalam peraturan berdasarkan persyaratan dan prosedur sebagaimana ketentuan perundang-undangan. Yang jelas, dengan kondisi tata ruang kota Denpasar hari ini, perizinan memiliki fungsi strategis dalam berbagai lini.

Pembangunan memang tidak dapat dihindari, namun seharusnya dapat difilter lewat proses perizinan yang baik dan transparan. Keberadaan Mal tidak akan lepas dari sambutan masyarakat. Meski kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi harus diteliti lebih jauh. Jika godaan untuk konsumtif, itu sudah jelas (Hahaha. Ini kembali pada kendali diri sendiri sebenarnya) tapi tidak lantas sama dengan pertumbuhan ekonomi. ย Maka, selamat menikmati Mal baru bagi warga kota maupun Bali. Saya sendiri tetap menagih lebih banyak lagi Perpustakaan Umum di kota ini.

Advertisements

One thought on “Ketika Mal Mal Bertumbuh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s