Ketika Saya Bercerita

17038929_1446418488726401_4215575164907449606_o

Seorang Candra berpameran? Bagi sebagian orang mungkin itu sulit dipercaya. Pameran apa? Fotografi, saya sendiri lebih suka menyebutnya cerita visual. Tetap saja, bagi sebagian masih sulit dipercaya. Tapi dalam hidup selalu ada kejutan menyangkut setiap orang yang kita kenal. Begitu juga dengan saya sendiri, maka sebut saja kali ini “ternyata” momen saya.

Cerita bermula pada awal Oktober 2016, saya mendapat informasi mengenai kelas  sayabercerita di linimasa Instagram dan saya tertarik untuk mendaftar. Menurut deklarasi bio instagram saat itu, sayabercerita adalah sebuah inisiatif untuk bercerita melalui medium fotografi. Saya sempat ragu, apalagi sebenarnya telah melewati batas akhir pendaftaran. Saking ragunya saya membujuk Saka Agung untuk mengikuti kelas ini yang ditolak saat itu juga. Maklum, saat itu load pekerjaannya untuk keluar kota cukup padat dan sulit diprediksi. Kemudian saya menghubungi Dodik Cahyendra, teman saya yang juga menjadi fasilitator kelas ini. Oleh Dodik, saya mendapat jawaban untuk mengirim saja aplikasinya bila memang benar-benar berminat dan berniat.

Akhirnya saya mendaftar dan diterima untuk dimentori oleh seorang fotografer yang suka berpetualang, sebut saja Vifick Bolang (Hahaha… Terima kasih, Kak Vifick!). Pada angkatan pertama, terkumpul sejumlah 8 orang, ada saya, Dodik dan Martino (keduanya sekaligus fasilitator) Tria, Ratna, Anton, Pak Arya dan Ucik. Pertemuan pertama kami malam itu dilaksanakan di Uma Seminyak.

Setelah melalui beberapa kali pertemuan, mulai dari perkenalan, dasar-dasar fotografi, brainstorming. Ada juga sesi memotret tanpa kamera, curhat-curhatan (eh? Tapi ini serius lho karena tema yang akan diambil masing-masing adalah personal) bahkan peralihan status hukum sebagian personel, pada akhir bulan Januari 2017 kami bersepakat untuk mulai fokus mempersiapkan pameran. Memang, capaian akhir dari kelas sayabercerita adalah pameran dimana fotografer sebagai subjeknya.

Pameran kami kemudian bertajuk Unspoken, mengambil benang merah dari masing-masing cerita visual yang kami sajikan. Saya sendiri bercerita mengenai Jalan Pulang, ada Dodik yang bercerita mengenai Lupa. Masih bercerita tentang keluarga khusunya Sang Ayah, Martino menggunakan perantara radio. Ratna juga menceritakan bagaimana keluarganya pertama kali memiliki foto keluarga hingga Anton yang mengidolakan sang nenek. Selain keluarga, ada  Tria yang menyajikan kotak kenangannya dalam beberapa lembar foto  hingga Pak Arya yang bercerita mengenai ikan-ikan cupangnya yang menjadi wahana refreshing dari rutinitas kerja.

Pameran Unspoken berlangsung di Uma Seminyak, Jalan Kayu Cendana Nomor 1, Kawasan Oberoi, Seminyak (kalau kamu pernah dengar kafe Titik Temu yang ngehits itu… lokasinya masih dalam satu kompleks). Unspoken dibuka pada Sabtu, 11 Maret 2017 hingga Sabtu, 25 Maret 2017. Jadi pada saat cerita ini ditulis, kamu masih punya cukup kesempatan untuk mengunjungi.

Tidak setiap tahun saya mengikuti pameran, meski saya juga tidak berharap Unspoken adalah pameran terakhir saya. Maka meminjam beberapa dokumentasi Wirasathya dan Dika, saya ingin teman-teman merasakan bagaimana persiapan hingga pembukaan Unspoken minggu lalu. Meminjam tagline Logika Rasa semoga cerita-cerita visual di Unspoken bisa menjadi cerita yang bercerita. Sampai jumpa di lain kata!

signature

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s