Indonesia Belum Pantas Mengajar, Indonesia Mari Belajar

WhatsApp Image 2017-05-09 at 7.03.37 PM

“Hari ini adalah hari pertama saya memutuskan untuk tinggal di Bali, sekalipun saya sudah pensiun nanti…” dia melontarkan kalimat tersebut dalam obrolan kami berlima di saat makan malam ini, 9 Mei 2017. “Karena saya belum sanggup untuk berpindah dari Indonesia…” dia melanjutkan, merujuk pada status salah satu kenalan kami di linimasa yang menulis keinginannya untuk pindah saja dari Indonesia. Facebook dan media sosial hari ini memang ramai dengan perbincangan putusan pengadilan tingkat pertama untuk Ahok, mulai dari analisis politik hingga karya puisi.

Saya bukan pemuja figur, pun termasuk Basuki ‘Ahok’ Tjahaja Purnama. Ketika orang-orang beramai-ramai memuja Ahok, bagi saya Ahok memiliki kesalahan fatal. Ia mencederai beberapa janji kepada masyarakat termarginalkan. Tentu, tidak memuja Ahok bukan berarti saya pendukung lawannya pada Pilkada DKI Jakarta lalu. Hanya saja, bila Anda termasuk golongan yang sulit untuk mempercayai bahwa ada nilai-nilai lain yang lebih layak untuk diperjuangkan dari sekadar ketokohan, ada baiknya Anda melewati ini dulu dan kembali lagi suatu hari. Saat Anda siap memahami. Kemudian, lanjutkan saja membaca paragraf berikutnya bila berkenan.

Dia yang saya ceritakan pada paragraf pertama adalah minoritas. Itu bila minoritas dan mayoritas diukur dari kuantitas. Namun, bukankah begitu minoritas dan mayoritas terlanjur dikonstruksikan di Indonesia? Sebagai sesama yang dianggap minoritas saya paham apa yang dia rasakan. Sebagai anak yang tumbuh di perantauan, saya juga paham apa yang dia takutkan. Saya mengalaminya, pada masa kanak-kanak namun membekas. Bagaimana pada beberapa kesempatan kamu bisa saja merasa tidak aman apalagi nyaman hanya karena kamu berbeda.

Putusan yang dijatuhkan majelis hakim kepada Ahok punya dampak besar, bahkan mengamini bila perbedaan adalah satu kesalahan. Dan iya, agama ternyata bisa “dinodai”. Siapapun bisa menodai agama, termasuk Anda. Penemuan hukum yang buruk. Seolah tidak cukup dengan penyelenggaraan Pilkada DKI 2017 yang bagi saya adalah pemilihan umum terburuk yang saya saksikan.

Pemilihan pemimpin dimana semua cara dikerahkan untuk mendapatkan kekuasaan bukan untuk melayani. Tidak peduli lagi pada nilai, tidak lagi memandang program maupun pemikiran. Mendadak semua dikaburkan dengan agama, padahal permasalahan yang ada pada kasus Ahok sejak awal sudah kita ketahui, ia adalah masalah penggunaan nalar serta logika bukan pada agama. Sedangkal itukah kita, Indonesia?

Satu jam kemudian, sesampainya di rumah saya mendapati banyak ajakan berdiskusi lewat perpesanan. Mulai dari yang terang-terangan menanyakan pendapat saya hingga memulai dengan pemanasan menunjukan pendapat orang lain. Beberapa berpendapat, putusan majelis hakim di tingkat pertama ini tidak bisa disalahkan dan sesuai dengan hukum yang berlaku, dalam hal ini undang-undang.

Pendapat demikian tidak salah, bahkan setiap warga negara wajib menghormati putusan majelis hakim mulai dari pengadilan tingkat pertama. Namun, hukum bukan hanya mengenai undang-undang dan produk hukum lain yang bisa saja buruk dan berpasal karet. Ketika kita belajar lebih dalam lagi, kita akan menemukan teori hukum hingga filsafat hukum. Semuanya menghadirkan aliran tersendiri dan tentu membutuhkan kesiapan pemahaman yang lebih lanjut.

Pertanyaan yang kemudian hadir, apakah putusan di tingkat pertama untuk Ahok ini telah mewujudkan rasa keadilan di tengah masyarakat? Masyarakat yang bagaimana?

Tentunya belum masyarakat yang terpelajar dan berpendidikan, sebab bagaimanapun hasil dari pendidikan adalah toleransi terhadap perbedaan. Seberapa jauh kita dapat menerima dan merayakan perbedaan.

Saya bukan pemuja Ahok, bukan pula pembenci Ahok melainkan pembela nilai-nilai universal, HAM. Meski Ahok begitu sering tidak mengindahkan HAM, ia tetap seorang manusia dan putra bangsa yang memiliki hak asasinya. Untuk itu pada kasus ini saya ada di sisinya, karena saya ada di sisi siapapun yang lahir di negeri ini dengan suku, agama dan ras tertentu dan semua itu tidak mengurangi hak mereka untuk dipilih dan memimpin. Berbeda bukan suatu kesalahan.

Saya Ni Putu Candra Dewi, saya perempuan, hingga hari ini beragama Hindu, dan bersuku Bali karena kedua orangtua saya dari suku yang sama. Saya bangga akan identitas saya. Dahulu saya pun bangga dengan Indonesia, pagi buta ini saya sedang mempertanyakannya.

Indonesia belum pantas mengajar, Indonesia mari belajar.

signature

Advertisements

6 thoughts on “Indonesia Belum Pantas Mengajar, Indonesia Mari Belajar

  1. pemikiran yg baik mba. saya juga meyakini agama saya mengajarkan yg baik mba termasuk menghargai segala perbedaan dengan tdk mencampuradukkan agama yg satu dgn yg lain karena jelas agama itu hubungan antara manusia dengan Tuhan masing2 mba. saya juga pemuja perdamaian mba, sejak dl bergaul dengan siapa saja tanpa mengurusi hal pribadi seperti agama, suku, ras dan warna kulit. saya melihat itu semua sebagai kebesaran Tuhan yg sy yakini. Mari hidup damai, salam kenal ya mba.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s