It’s Okay, I Like Myself

WhatsApp Image 2017-07-25 at 4.33.44 AM
Bonus pemandangan saya saat menulis blog post kali ini 🙂

Kalau teman-teman mengikuti instagram ibook Retno Hening Palupi (@retnohening) sejak lama, mungkin saja sudah akrab dengan apa yang dikatakan oleh Kirana si gadis cilik kesayangan jagat instagram. Bagaimana sang ibook mengajarkan Kirana bahwa tidak ada yang salah dengan dirinya, mulai dari eksim yang ada pada Kirana hingga anggota tubuhnya. Saya pun pernah meregram video ini hampir setahun lalu, kira-kira pada bulan November 2016.

Dibanding video menggemaskannya yang lain, video Kirana satu ini adalah salah satu yang paling mengena di hati saya. Sederhana namun memberi makna.

It’s okay, I like how ibook Retno teach self respect to her daughter.

Kata-kata Kirana di video itu juga kembali terlintas begitu saja di kepala, saat salah satu teman berkomentar, “kok akhir-akhir ini suka membagikan kembali status facebook tahunan lalu sih?”

Tentu jawabannya bukan karena galau atau quarter life crisis. Saya hanya merasa pada beberapa hal prinsip saya tidak banyak berubah. Sebaliknya, pada beberapa hal sepele justru saya tengah menertawakan diri saya.

Bahasan saya enam tahun yang lalu mungkin memang cukup berat bagi manusia seusianya. Saya membahas mengenai cinta tanpa syarat, pemahaman saya terhadap hidup, dan masih banyak yang mungkin tak cukup lumrah bagi gadis di usia itu.

Sebagai ambivert, pada usia itu saya lebih condong menikmati membaca, menulis maupun menyaksikan apa yang menarik bagi saya dibanding berbondong-bondong mendatangi pantai yang mendadak ramai atau tempat baru lainnya bersama kawan. Atau, kalaupun saya pergi ke pantai maka saya akan lebih memilih pergi ditemani oleh buku. Kumpulan yang gaduh bagi saya sama sekali tak menarik terutama ketika hanya diisi oleh orang yang merasa “sepi” dan butuh “teman” tanpa tahu atau mencari nilai hidup.

Bertahun-tahun yang lalu pula, saya pernah menulis pandangan saya mengenai sahabat. Bagi saya, teman terbaik yang kita punya salah satunya adalah diri kita sendiri. Tentu bukan berarti kita tak membutuhkan dan menginginkan sahabat lain. Kualitas selalu lebih penting dari kuantitas untuk pertemanan apalagi sebutan sahabat.

Iya, saya adalah salah satu sahabat bagi diri saya sendiri. Beberapa hari belakangan ini saya banyak berkaca pada diri saya di usia 22 tahun, 21 tahun, bahkan 20 tahun yang jejaknya terekam dalam tulisan-tulisan. Status facebook hanya salah satunya.

Membaca itu semua maka saya bersyukur, saya masih di jalan yang sama untuk terus bertumbuh serta belajar. Menjadi lebih baik dari kesalahan yang saya perbuat.

Saya bersyukur dengan segala ketidaksempurnaan saya masih konsisten untuk berupaya bermanfaat hingga hari ini.

Tahukah kamu? Bagaimana kamu mengenali dirimu sendiri serta mencintai dirimu amat berpengaruh pada hubunganmu dengan sekitar. Ia membawa pengaruh jauh kepada bagaimana kamu mencintai mahluk hidup lainnya.

And it’s okay, I like myself.

Do you like yourself?

I hope you do.

signature

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s