Banda The Dark Forgotten Trail: Mengulik Sejarah Melalui Teropong Pop

WhatsApp Image 2017-08-15 at 8.17.32 AM (1)
Sumber: Instagram Lifelike Pictures

Bukan sebuah karya namanya jika tidak mengundang perdebatan. Begitu pula dengan Banda The Dark Forgotten Trail (Banda). Film nasional berdurasi 94 menit yang mengklaim dirinya sebagai dokumenter sejak awal memang menarik perhatian saya. Saya pun berjanji pada diri sendiri, ketika Banda mendapat layar di Bali maka saya akan menontonnya terlepas dari perdebatan beberapa penikmat mengenai film ini.

Banda merupakan film arahan Jay Subiakto yang sejak awal mula lebih dikenal sebagai produser dan sutradara musik dengan gambar-gambar gelap khasnya. Sheila Timothy yang saya kenal sebagai produser Tabula Rasa menjadi produser dari film ini di bawah bendera Lifelike Pictures. Sementara Screenwriter dikerjakan oleh Irfan Ramli, penulis skenario Cahaya Dari Timur – Beta Maluku, Surat Dari Praha hingga yang terbaru, Filosofi Kopi 2 – Ben & Jody. Saya semakin yakin, bahwa dokumenter satu ini berusaha menerjemahkan dengan cara yang  lebih pop dan menyasar anak muda.

Masing-masing nama juga memiliki keterikatan dengan film, misalnya Jay Subiakto yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Bung Hatta, Irfan Ramli yang berasal dari Maluku, kepulauan dimana Banda berada. Hingga Reza Rahadian Matulessy sebagai narator yang mewarisi marga Maluku dari orangtuanya. Ditambah second unit camera dari kenamaan Davy Linggar dan Oscar Motuloh. Melihat beragamnya nama-nama dan sisi personal  yang terlibat dalam film dokumenter ini, wajar saja bila saya menaruh harapan yang cukup tinggi.

Ekspektasi saya terhadap sajian visual memang tidak jatuh, pada beberapa bagian saya justru berdecak kagum. Namun, saya juga tidak akan menutupi pada bagian-bagian lainnya saya merasa cukup jenuh. Bukan karena beberapa cuplikan gambar disajikan kembali, namun tempo untuk memunculkan Banda pada masa kini terasa sangat jauh.

Sebagai film dokumenter pertama, nampaknya Jay Subiakto kesulitan dalam menyulam sisi cerita dengan gambar-gambar menawannya. Dampaknya di studio kami yang sudah sepi semakin sepi dengan beberapa penonton yang memutuskan menyerah dan angkat kaki. Pada beberapa bagian juga akan terlihat bagaimana upaya (terlalu) keras sang sutradara untuk menghadirkan sejarah yang sudah berlalu lewat ruang audio visual penonton. Yang mana menurut saya berlebihan.

WhatsApp Image 2017-08-15 at 8.17.32 AM
Sumber: Instagram Lifelike Pictures

Bagaimanapun sejarah harus dipelajari agar kesalahan di masa lalu tidak terulang kembali. Dan bagaimanapun adalah sebuah kenyataan bila Kepulauan Banda pernah menempati posisi yang penting di dunia karena menghasilkan rempat terbaik bernama pala. Keberadaan rempah ini pula yang dahulu mengundang Belanda menghampiri Nusantara hingga akhirnya mendudukinya.

Kini, seiring makin banyaknya penemuan terutama lemari pendingin pala tak lagi jadi rebutan. Namun luka akan sejarah kelam pembantaian masih terus menganga. Penduduk asli Banda sendiri diperkirakan kurang dari 30% dan berubah menjadi suku baru, suku Banda. Suku yang dihasilkan oleh perkawinan campur dari berbagai suku di Kepulauan Nusantara. Saat itu nenek moyang mereka dikirim sebagai budak untuk membantu perkebunan Pala.

Namun sebagai sebuah eksplorasi bagi saya tidak ada yang salah dengan Banda. Film ini tetap sebuah film dokumenter. Pada beberapa bagian mampu menguak sejarah Kepulauan Banda yang tidak banyak diketahui. Atau mungkin selintas lalu kita pelajari saat kelas lima Sekolah Dasar, lalu kita lupakan.

Bagi saya Banda tetap menjadi film dokumenter nasional yang wajib ditonton, karena keberanian untuk memulai juga mahal harganya.

WhatsApp Image 2017-08-10 at 8.01.51 AM
2017 © Wayan Martino

signature

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s