Merespon Bali dan Ruang Melalui Pentas Bebunyian

Martino Kalangan-2
2017 Β© Wayan Martino

Jong, demikian Santiasa Putu Putra-sutradara pementasan ini kerap disapa adalah orang gila… favorit saya.

Baik, saya membuka ulasan ini dengan pernyataan subyektif, gila dan favorit. Tulisan saya kali ini akan cenderung subyektif dan peringatan sudah saya letakan di awal. Selain karena salah satu otak dibalik proses kreatif Bebunyian adalah teman, saya yang terlambat hadir hampir 15 menit karena kendala pekerjaan dan pencarian lokasi juga merasa kurang adil untuk mengulas secara utuh. Namun itu semua tidak menyurutkan antuasiasme saya pada produksi kesepuluh Teater Kalangan lewat tulisan.

Eksperimen Teater Kalangan kali ini bisa dikategorikan sebagai proyek ambisius, anggotanya menyebarkan undangan secara khusus. Mungkin hanya kepada puluhan nama pada daftar, namun tentu memerlukan energi ekstra bagi semua yang terlibat selain mempersiapkan keperluan lain untuk pementasan. Usaha itu pula menandakan betapa kehadiran dan masukan dari siapapun dan apapun latar belakangnya sangat dinantikan.

WhatsApp Image 2017-08-23 at 5.37.20 AM

Menurut informasi yang saya himpun dari Wayan Martino maupun Vanesa Martida, dua teman saya yang hadir tepat saat pentas dimulai, pentas dimulai dengan adegan para pemeran yang hilir mudik dengan merobek kertas. Ada juga yang menyabit rumput yang diikuti dengan permainan instalasi musik. Tanpa adanya pembuka maupun pertanda khusus sebelumnya, tentu beberapa orang perlu waktu lebih lagi untuk menyadari bila panggung telah terisi dan pentas telah dimulai. Saya tak punya kapasitas untuk mengulas bagian ini.

Martino Kalangan-3
2017 Β© Wayan Martino

Menit di saat saya tiba, saya cukup kesulitan mencari posisi dan tune in karena suasana yang temaram. Namun pada menit berikutnya harus saya akui jika saya terpana. Saya sangat menyukai suasana yang dibangun dalam sepetak tanah di tengah-tengah perumahan ini. Saya bahkan tidak cukup punya waktu untuk mempedulikan siapa saja yang di sebelah dan sekitar saya, dalam sisa waktu sekitar 30 menit semenjak saya datang saya bisa menikmatinya sendiri.

Tim produksi dari Teater Kalangan mampu menyulap ruang ini menjadi sebuah dunia baru. Bersama dengan berbagai properti yang kebanyakan berasal dari alam. Bilamana ada yang bukan, saya pikir properti itu digunakan untuk membangun suasana yang mendekati alam, misalnya plastik untuk membangun suasana persawahan. Semua yang telah lebih dulu hadir di ruang itu, mulai dari rerumputan, pohon pisang hingga pohon kamboja mampu menjadi media komunikasi pementasan. Belum lagi dengan tata lampu yang mumpuni menjadikannya semakin menarik dan berkarisma. Padamnya lampu yang beberapa kali terjadi seolah bukan masalah, karena bahkan tidak mempengaruhi penampilan mereka.

Martino Kalangan-16
2017 Β© Wayan Martino

Kesan yang saya tangkap dari bunyi bunyian yang dihadirkan juga sangat mendalam. Setelah sehari sebelumnya saya membaca catatan penata bunyi, mengenai betapa bunyi membangun dunia baru dan frekuensi atau getaran berperan penting dalam hal ini. Tidak semua frekuensi dapat kita-sebagai manusia mampu untuk tangkap. Namun ternyata eksplorasi terhadap frekuensi yang bisa ditangkap oleh manusia sangat luas. Mulai dari ritmis hingga melodis, bahkan melalui instalasi musik yang ditempatkan di awal. Oh iya, termasuk kolaborasi dengan angin dan gesekan dedaunan yang liar dan tak dapat dibentung. Maha artsy-lah Semesta!

Benang merah yang disampaikan sang sutradara dalam tulisannya, seperti gerakan Bali Tolak Reklamasi, petani garam di Amed memang saya dapatkan, meski saya pikir perlu banyak pemotongan untuk menjadikan pementasan ini lebih padat dan tajam. Ini bukan sekadar perkara durasi tapi memastikan lebih banyak penonton yang menemukan benang merah yang sedang di ketengahkan tanpa menyerah di tengah jalan. Komunikasi dalam pementasan semacam ini juga memerlukan usaha lebih dari penonton.

Martino Kalangan-20.jpg
2017 Β© Wayan Martino

Pada beberapa obrolan, Jong sempat mengatakan ingin membuat pementasan yang lebih banyak melibatkan penonton, baik mereka-para penonton sadar maupun tanpa tersadar. Hal yang sama juga sempat hadir dalam obrolan saya dengan Martino, lewat chemistry yang telah dibangun sedemikian rupa dalam pementasan maka akan lebih menarik jika penonton bisa terlibat lebih jauh, dalam ruang maupun interaksi misalnya. Saya menanti impiannya yang ini, baik dengan mengusung konsep bebunyian maupun eksperimen lainnya. Semoga menjadi awal untuk karya berikutnya.

Martino Kalangan-21
2017 Β© Wayan Martino
Martino Kalangan-23.jpg
2017 Β© Wayan Martino

signature

Advertisements

6 thoughts on “Merespon Bali dan Ruang Melalui Pentas Bebunyian

  1. Trims ulasannya.
    Saya jadi tau atmosfer yg berusaha dibangun sama Jong ini, meskipun saya ngga bisa nonton langsung ke sana~
    Let me know if you write other performance review yaa, I’ll be more than happy to read it πŸ˜€
    Cheers!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s