Salam dari Akber Bali untuk 2016

whatsapp-image-2017-01-16-at-22-24-12

Tahun 2016, bisa disebut sebagai titik balik gerakan Akber Bali. Bermula dari saya yang merasa kami butuh energi energi baru dan kita bisa lebih daripada ini. Bisa. (Silakan dibaca dengan berapi-api). Lalu saya berkeinginan mengadakan rekrutmen relawan pengelola baru dan keinginan itu juga didukung oleh teman-teman relawan saat itu seperti Fahri, Ria, Shandy dan Vina.

Singkat cerita, terjerumuslah bergabunglah beberapa relawan pengelola baru pada bulan Februari, ada Mas Wira, Bli Sumada, Cita, Lia, Yogi serta Jian dan Aghna. Khusus Jian dan Aghna, ini pertama kalinya Akber Bali memutuskan berani menerima relawan dari kabupaten yang berbeda. Akber Bali memang sedikit berbeda dengan Akber kota lainnya, kami menyandang nama propinsi. Saya dan Fahri sebagai Kepala Sekolah saat itu berpikir mengapa tidak?   Continue reading “Salam dari Akber Bali untuk 2016”

Tujuh Pertanyaan tentang Akber Bali

Kebersamaan saya dan Akber Bali di tahun ini mencapai tahun ketiga, kata mereka cukup banyak cerita yang telah saya alami. Dan saya sepakat. Kali ini saya mengemasnya dalam bentuk wawancara telanjang. Kalian boleh menyebutnya tujuh pertanyaan tentang Akber Bali.

1. Akber itu apa? (Ini pertanyaan paling standar tentang Akber maupun Akber Bali, pertanyaan yang sejenis kalau kalian sedang kumpul keluarga dan ditanyai, “mana pasangannya?” Sudah biasa bukan?)

Akber adalah gerakan sosial berbasis kesukarelawanan untuk pengembangan kualitas manusia-manusia di Indonesia. Tujuan Akber sesederhana membangun Indonesia berkualitas lewat pembelajaran, kesukarelawanan, jaringan dengan gembira. Pengetahuan dan wawasan yang dibagi di Akber umumnya adalah yang dapat langsung diaplikasikan di dunia kerja. Supaya bangsa Indonesia bukan cuma jadi penggembira di negerinya.

2. Jadi, Mbaknya relawan Akber ya?

Iya, saya salah satu jenis relawan Akber tepatnya relawan pengelola. Akber memiliki beberapa jenis kesukarelawanan, kalau kamu punya semangat yang sama ingin berbagi melalui pengajaran, kamu tentu bisa menghubungi Akber Bali untuk menjadi relawan pengelola melalui tautan ini bit.ly/akberbali2016, kami tunggu hingga 10 Februari 2016. Begitu pula kamu yang mempunyai tempat yang bisa kami gunakan untuk kelas, kami menyebutnya relawan penyedia tempat dan relawan guru untuk mereka yang ingin berbagi keahliannya.

3. Kalau gabung sebagai relawan Akber artinya harus pintar ya Mbak? Harus suka belajar? (Entahlah, apa ada relawan lain yang penah mendapati pertanyaan seperti ini? Yang jelas saya cukup tergelitik).

Saya pikir tidak harus (selalu merasa) pintar. Harus suka belajar? Mungkin lebih pada passionate. Kelebihan menjadi relawan Akber adalah kamu bisa mulai dari hal-hal yang ingin kamu pelajari lebih dulu. Kalau sudah begitu akan menyenangkan bukan? Itulah mengapa tagline Akber “Berbagi Bikin Happy!”

4. Kok bisa sih semua kelas Akber itu free alias gratis alias gak dibutuhkan biaya sama sekali? Lalu, dari mana biayanya? Hari gini aja ya Mbak, saya parkir di Toko dan batal belanja pun tetap dimintai uang parkir lho! (Eh, curcol detected).

Tentu saja bisa! Kami, teman-teman di Akber percaya kalau belajar itu mudah, menyenangkan dan memang seharusnya gratis. Kamu bisa belajar apa saja yang kamu mau dan dimana saja. Kalau meminjam kutipan nih, “Ketika murid siap, maka guru akan muncul.”

Di setiap daerah di Indonesia, selalu ada orang-orang yang ahli di bidangnya masing-masing. Akber hadir untuk menjadi jembatan antara keinginan belajar dan kebutuhan mereka yang ahli untuk berbagi.

5. Aku bukan anak media sosial, apa masih bisa bergabung di Akber Bali?

Akber atau Akademi Berbagi memang terlahir dari media sosial twitter lima tahun lalu, dari cuitan foundernya Mbak Ainun Chomsun yang ingin belajar mengenai satu topik. Namun, bagaimanapun eksekusi kami ada pada dunia offline. Media sosial  adalah alat bantu kami dalam menyebarkan informasi kelas, merekrut relawan sampai menghubungi calon relawan guru. Selain twitter, kami juga memiliki instagram, fan page facebook hingga blog. Singkatnya platform online digunakan untuk memudahkan interaksi. Itu berarti tidak harus dari setiap relawan Akber suka berinteraksi di media sosial.

6. Kenapa sih untuk jadi relawan minimal harus satu tahun, kalau nantinya aku bosan, gimana?

Kerja sukarelawan memang tidak menjadikan kita dibayar, namun bukan berarti tidak mengikat. Untuk suatu gerakan yang konsisten, Akber juga memerlukan orang-orang yang konsisten untuk mengelolanya. Lagi pula dengan menjadi relawan selama minimal satu tahun, kamu baru akan merasakan manfaatnya. Akber Nasional memiliki acara Local Leaders Meeting dan Local Leaders Day yang diadakan bersela setiap tahunnya, semua itu untuk meningkatkan kapasitas dari relawan pengelola Akber se-Indonesia Raya. Sesuai dengan visi Akber, sharing, volunteering dan networking.

Tidak masalah apa motif terdalam kamu untuk bergabung menjadi relawan atau mengikuti kelas Akber (mendapat pacar, misalnya? Sering terjadi) – sama sekali tidak ada yang salah dengan itu, asal tujuan utama tetap konsisten dijalankan.

7. Halo Mbak, narahubung Akber Bali ya? Mbak Candra? Begini, saya dari (masukan nama MLM) ingin menawarkan Mbak untuk bergabung bersama kami untuk kehidupan yang lebih baik. Kalau Mbak masih ragu, bisa ikut pertemuan kami dulu. Bagaimana Mbak? Mbak? Mbak?

(Untuk yang satu ini, mungkin ada yang mau membantu saya menjawab?)

***

“Tidak mudah untuk mengajak orang belajar, bahkan kita terbiasa untuk berjanji dan mengingkari.” Kalimat itu saya dapatkan dari seorang Ainun Chomsun, di Jakarta pada acara Local Leaders Meeting, Maret 2015 lalu. Pada kenyataannya saya mengamininya, pemimpin besar adalah mereka yang melakukan pekerjaan-pekerjaan tidak mudah. Dan tentunya dengan hati yang ringan, karena tidak lupa berbahagia!

 12187999_710452492388792_3309557488423626432_o