Salam dari Akber Bali untuk 2016

whatsapp-image-2017-01-16-at-22-24-12

Tahun 2016, bisa disebut sebagai titik balik gerakan Akber Bali. Bermula dari saya yang merasa kami butuh energi energi baru dan kita bisa lebih daripada ini. Bisa. (Silakan dibaca dengan berapi-api). Lalu saya berkeinginan mengadakan rekrutmen relawan pengelola baru dan keinginan itu juga didukung oleh teman-teman relawan saat itu seperti Fahri, Ria, Shandy dan Vina.

Singkat cerita, terjerumuslah bergabunglah beberapa relawan pengelola baru pada bulan Februari, ada Mas Wira, Bli Sumada, Cita, Lia, Yogi serta Jian dan Aghna. Khusus Jian dan Aghna, ini pertama kalinya Akber Bali memutuskan berani menerima relawan dari kabupaten yang berbeda. Akber Bali memang sedikit berbeda dengan Akber kota lainnya, kami menyandang nama propinsi. Saya dan Fahri sebagai Kepala Sekolah saat itu berpikir mengapa tidak?   Continue reading “Salam dari Akber Bali untuk 2016”

Not So Inspiring Post About Inspiration

It’s so scary to write about inspiration nowadays. Since inspiration become so mainstream word in a few years, in my country -Indonesia. Writing about inspiration maybe make us become inspiration. No matter, I believe a generous act will make us inspiration instead of words. (Oh, I still love words anyway.)

Let me explain it, I live in the development country where we searching more and more leader and role model. Everytime is a rush and everywhere people want to impress other people. Growing up, however, I learned all I need for life just express what I feel and my view. Sure, as long as it is not hurt anybody.

So, how can you want to be inspiring? If you can be funny, weird, sweet, in same time. I believe there’s no need to be perfect to inspire others. Because each person has their problem. How you deal with your imperfections that’s make you inspiring.

Jadi Masih Mau Punya Anak?

Dalam kurun waktu kurang dari dua puluh empat jam, saya mendengar setidaknya Wira Tampubolon bertanya sebanyak dua kali mengenai… “Masih mau punya anak?” Entah dia bertanya pada saya atau pada dirinya sendiri. Hahaha.

I’m a big fan of children. Basically, every child that I met. Bukan karena mereka sekadar menggemaskan, tapi ada banyak hal yang bisa diajarkan mereka. Bahkan hanya dengan genggaman tangannya saja bisa buat melayang-layang. Maka sejak dulu bila sahabat saya bertanya, mengapa harus pencerita? Sebenarnya jawabannya adalah sesederhana saya ingin bergantian mendongengi anak saya kelak.

Tapi, seiring trend pernikahan (maksudnya?) dan lingkungan yang lebih dulu berumah tangga maka semakin saya sadari jika menjadi orangtua adalah pekerjaan besar. Menjadi orangtua itu tidak mudah, seperti yang saya tuliskan beberapa hari lalu, (Menjadi) Ibu tidak mudah. Apalagi di era millenials. Era yang serba cepat, dan penuh persaingan. Tidak ada yang lebih pasti selain perubahan itu sendiri.

“Anak adalah rejeki…” atau “Anak adalah titipan Tuhan.”

Iya, semua memang tergantung perspektif. Tapi bagi saya kehadiran anak memang anugerah tapi di sisi lain bukan lagi untuk membantu orangtua seperti konsep yang biasa diusung tetua kita. Anak adalah sumbangan kita pada jaman, pada dunia, pada negara, pada lingkungannya bertumbuh.

Sejak awal, saya memisahkan antara memiliki pasangan hidup dengan memiliki anak. Maka kalau saya menikah dan berumah tangga, artinya saya memilih dan dipilih orang tersebut untuk menjadi teman hidupnya. Itu adalah dasar dan yang utama.

Persoalan memiliki anak adalah persoalan yang berbeda lagi. Tidak semua yang siap menjadi Istri atau Suami kemudian langsung siap menjadi Ibu atau Ayah, karena keduanya adalah peran yang berbeda. Bahkan kehadiran peran berikutnya bukan meniadakan peran sebelumnya.

Nyatanya, kita hidup di tengah masyarakat yang masih meyakini tahapan hidup adalah persis sama. Kamu lahir, kamu bersekolah, kamu berkuliah dan kemudian kamu menikah maka selamat kamu akan bahagia.

Padahal, menikah adalah hak bukan suatu kewajiban.

Mempunyai anak pun, di era yang penuh tantangan ini dan dengan keinginan untuk memberi yang terbaik merupakan sebuah pilihan bagi kita.

Dan di sisi lain, betapa malangnya anak-anak kita yang tidak bisa memilih untuk terlahir atau tidak. Mungkin saja mereka memilih untuk… tidak.

Terima Kasih

Terima kasih untuk keluarga besar dengan kasih sayang yang selalu ada.

Terima kasih untuk orang-orang acak yang menjadi tangan-tanganMu untuk membantu dalam kesulitan.

Terima kasih untuk setiap hari yang bergulir.

Kata Letto, sial itu datang dan pergi tanpa permisi kepadamu… suasana hati. Maka suasana hati adalah kunci.

Selagi diri bisa mengendalikannya, maka semakin jarang kita merasa ditimpa kesialan. Dan semua berganti dengan rasa syukur. Sampai nanti, sampai mati.

(Menjadi) Ibu

Menjadi Ibu itu tidak mudah. Hari ini saya melihat kondisi di tempat umum dimana seorang Ibu lebih memilih asyik dengan gadget-nya ketimbang membalas celotehan anaknya yang duduk di hadapannya. Entah, ini dinamakan tantangan Ibu di era millenials atau apa.

Menjadi Ibu itu tidak mudah. Beberapa hari yang lalu sahabat saya bercerita, ia yang bahkan belum genap dua bulan melahirkan harus rela kembali ke kantor beberapa hari dalam seminggu. Cutinya dipermasalahkan, padahal jelas ia punya hak cuti menyusui hingga si anak berusia 3 bulan.

Menjadi Ibu itu tidak mudah. Sahabat saya yang lain, ia telah memutuskan berhenti bekerja demi bisa merawat anaknya dengan lebih leluasa. Tapi ternyata bayinya sakit, kejang parsial secara mendadak. Berat badan si bayi menyusut dan diharuskan minum beberapa jenis obat selama setahun. Hati siapa yang tidak sedih melihat bayi di bawah satu tahun harus meminum obat dalam jangka waktu selama itu.

Saya memang belum menjadi Ibu, dan saya tahu itu tidak mudah. It’s a big deal.

Berbuka

Berbuka puasa bersama, meski tidak menunaikan ibadah berpuasa. Hampir setiap tahun saya menjalaninya. Mulai dari masa Sekolah Dasar, saya menunggui beberapa teman yang harus tarawih dan mengaji. Kemudian di masa SMA dan berkuliah, undangan berbuka puasa bersama datang silih berganti.

Pada bulan Ramadhan tahun lalu, saya berbuka puasa bersama tim Annika Linden Centre, ada Kak Siska, Abie, Tini, Pak Rosyid, Kak Suri serta Selvi. Kami berbuka di rumah Kak Siska dengan hidangan masakan dari Ibu Kak Siska. Ternyata saya juga merindukan saat-saat itu.

Waktu bergulir dan hari ini saya berbuka bersama teman-teman Akber Bali di Helmen Coffee, Denpasar. Mulai dari relawan pengelola, relawan guru, relawan penyedia tempat hingga siswa hadir. Entah akan dimana dan bersama siapa saja saya berbuka puasa bersama di tahun-tahun mendatang. Kita tidak akan pernah tahu.

17868
Helmen Coffee, 29 Juni 2016

Lalu bila tidak berpuasa makanan, apa esensi dari berbuka bersama? Ternyata keseimbangan, baik antara berbuka puasa maupun kebersamaan yang dirasakan.

Untuk mencapai itu, mungkin kita harus kembali lagi… berbuka hati dan berbuka pikiran.

 

Roti

Keluarga saya adalah penyuka roti, setidaknya roti tawar. Sejak saya anak-anak, Bapak dan Ibu selalu memasukkan roti dalam daftar belanjaan di Swalayan.

Sebenarnya kami masih dapat sarapan dengan tentram walau tidak ada roti yang dibakar maupun diolesi selai dan susu. Dalam hal ini keberadaan roti memang diinginkan tapi bukan dibutuhkan.

Sarapan masih bisa dilaksanakan dengan jajanan khas bali, singkong, pisang goreng atau bahkan yang lebih berat seperti nasi kuning dan nasi goreng. Tapi yang jelas, di rumah kami hampir selalu ada roti tawar. Bila hari ini kosong, maka pada petang hari atau keesokannya sudah ada sebungkus roti tawar lagi.

Roti juga mengingatkan saya pada pembangunan, sebuah pekerjaan bersama. Iya, roti pembangunan. Hari ini saya kembali mendengar istilah itu.

Sebagai seseorang yang belajar hukum, saya mengetahui dengan pasti bagaimana posisi regulasi dalam menopang pembangunan. Bukan paling baik, bukan terpenting namun memang penting bagi sebuah negara yang mengikrarkan diri sebagai negara hukum.

Roti pembangunan –apa mungkin karena (terlanjur) disebut demikian kita jadi kerap mengesampingkannya bagi saudara-saudara yang masih terpinggirkan? Karena kita pikir mereka toh masih bisa hidup tanpa sarapan roti.

Hingga pada akhirnya, negeri ini hanya jadi belantara hutan regulasi. Kita menanam banyak, tapi tidak banyak yang paham cara memetiknya. Tidak ada sosialisasi menyeluruh dan minim literasi peraturan perundangan.

Kenyataannya memang tidak setiap keluarga seberuntung keluarga saya, yang punya pilihan untuk makan roti atau tidak pagi ini. Tidak semua keluarga pula –sebagai unit terkecil dari masyarakat dapat benar-benar merasakan pembangunan secara maksimal.