Ketika Saya Bercerita

17038929_1446418488726401_4215575164907449606_o

Seorang Candra berpameran? Bagi sebagian orang mungkin itu sulit dipercaya. Pameran apa? Fotografi, saya sendiri lebih suka menyebutnya cerita visual. Tetap saja, bagi sebagian masih sulit dipercaya. Tapi dalam hidup selalu ada kejutan menyangkut setiap orang yang kita kenal. Begitu juga dengan saya sendiri, maka sebut saja kali ini “ternyata” momen saya.

Continue reading “Ketika Saya Bercerita”

UberTRIP Bukti Uber Berinovasi

Teknologi mengubah segalanya, seperti pisau bermata dua bisa baik dan bisa juga buruk. Salah satu yang baik adalah perubahan yang mampu memecahkan permasalahan banyak orang. Dahulu, untuk bepergian kita mesti jauh-jauh ke pangkalan kendaraan, memilih dan menawar transportasi yang kita butuhkan. Baik itu mobil maupun ojek motor. Kini? Cukup dengan sentuh maka kita bisa berpindah. Iya, semudah itu.

Uber adalah pionir untuk aplikasi yang memberi solusi pada permasalahan transportasi dan tentunya telah dikenal secara internasional. Nah, Kamis 17 November 2016 di Rooftop Zia Hotel Petitenget lalu telah diadakan peluncuran resmi layanan terbaru dari Uber. Senang sekali diundang dan dapat hadir dalam acara kali ini bersama teman-teman blogger lainnya, ada Mas Saka Agung, Mbak Atiek dan juga Edi.

16-11-17-17-34-07-840_photo
Beberapa blogger di Bali, beraneka rupa tentunya. 

Continue reading “UberTRIP Bukti Uber Berinovasi”

Ketika Mal Mal Bertumbuh

Akhir pekan lalu merupakan soft opening sebuah Mal di kawasan Teuku Umar, Denpasar. Bangunan tersebut sebelumnya dikenal dengan nama Denpasar Junction. Sebelumnya bangunan ini telah beberapa kali bermasalah dalam pemenuhan syarat perizinan. Ada juga beberapa keluhan dan kekhawatiran dari warga sekitar, mulai dari kekuatan bangunan, limbah bangunan, kajian sosial, lahan parkir yang minim hingga kemacetan yang mungkin ditimbulkan.

Selain Mal baru di kawasan Teuku Umar, beberapa waktu mendatang juga akan dibuka pusat perbelanjaan di kawasan Renon, Denpasar. Proses pembangunannya pun memakan waktu yang sama lamanya, meski saya kurang mengikuti apakah Mal tersebut sempat terkendala proses pemenuhan syarat perizinan juga atau tidak. Continue reading “Ketika Mal Mal Bertumbuh”

Hukum Pewarisan Adat Bali Hari Ini

Ketika membicarakan kebudayaan di Bali, pikiran masyarakat umum akan terarah pada kesenian, ritual upacara keagamaan maupun tradisi-tradisi yang telah dijalankan turun temurun. Pada tingkatan selanjutnya, sebagian akan mengaitkan dengan konsep Tri Hita Karana, yaitu harmonisasi hubungan manusia dengan alam, dengan sesamanya dan dengan Tuhan. Demikianlah, Bali sebagai suatu panggung pertunjukkan atas nama pariwisata untuk dunia.

Posisi Bali yang lebih dikenal karena pariwisata berpengaruh terhadap kemudahan masuk arus globalisasi melalui ilmu pengetahuan teknologi, ekonomi, politik hingga budaya. Bagai pisau bermata dua, globalisasi memiliki pengaruh dalam tiap aspek kehidupan masyarakat. Reaksi masyarakat terhadap globalisasi cenderung berbeda pada tiap generasi, sebaran tempat tinggal, maupun status sosial. Pada akhirnya, modernisasi maupun globalisasi memiliki dampak baik yang bersifat positif maupun negatif terhadap kehidupan masyarakat, termasuk budaya suatu masyarakat. Continue reading “Hukum Pewarisan Adat Bali Hari Ini”

Bali, Festival dan Literasi

Bali dalam hal ini Denpasar mungkin bukan seperti Surabaya yang disematkan gelar sebagai kota literasi. Namun, di pulau Bali pada setiap akhir tahun selalu dihelat sebuah festival tingkat internasional untuk penulis dan pembaca. Karenanya, Bali dengan literasi memiliki hubungan yang erat. Setidaknya begitu di mata beberapa teman saya yang merupakan penulis. Apakah benar demikian?

Menjauh sedikit dari keriuhan Ubud pada minggu ini, di Denpasar sekalipun beberapa hari belakangan diadakan pameran buku. Namun, apakah memberi pengaruh besar pada minat baca masyarakat ? Continue reading “Bali, Festival dan Literasi”

Bali dan (Cita-Cita) Hukum Kepariwisataan

Sebagai seseorang yang memutuskan bersekolah hukum saya kerap kali mendapat pandangan yang negatif dari masyarakat tentang penegakan hukum. Apalagi ketika kemudian memilih konsentrasi hukum kepariwisataan di jenjang magister. Bali dan pariwisata beberapa puluh tahun terakhir memang begitu lekat, begitu juga masyarakat dan hukum. Maka, saya meyakini mempelajari hukum kepariwisataan adalah suatu kebutuhan baik dari sisi globalisasi di masa kini maupun tempat saya tinggal.

Kali ini saya ingin mengulas sedikit saja mengenai hukum kepariwisataan, konsentrasi pada magister ilmu hukum yang masih jarang didengar dan saat ini hanya ada di Bali. Tentu saja bukan untuk membanggakan satu bidang keilmuan. Karena bagi saya, tidak ada profesi yang paling istimewa di muka bumi ini. Kemuliaan suatu profesi kembali lagi pada bagaimana individu mengembangkan dan menjadikannya bermanfaat. Saya hanya ingin menjawab pertanyaan yang sering kali muncul, tentang apa saja yang terkait dengan hukum kepariwisataan. Continue reading “Bali dan (Cita-Cita) Hukum Kepariwisataan”

Komunitas, Gerakan dan Semangat Kesukarelawanan

Manusia sebagai mahluk individu namun sekaligus mahluk sosial, selalu ingin mendapat kesempatan untuk mengaktualisasi diri. Bergabung dalam komunitas sebenarnya merupakan suatu yang tidak terelakan melainkan menjadi kebutuhan. Sebagai bagian dari masyarakat, manusia tumbuh dan berkembang dalam komunitas. Komunitas dalam hal ini ialah sekumpulan orang yang memiliki persamaan kepentingan atau ketertarikan pada suatu nilai. Komunitas sendiri sebenarnya memiliki banyak macam, ada komunitas yang berbasis geografi seperti warga komplek perumahan, komunitas yang berbasis hobi, misalnya saja komunitas fotografi atau otomotif, komunitas yang berbasis politik seperti partai dan ada juga komunitas yang berbasis pada gerakan.

Komunitas berbasis gerakan ini yang beberapa tahun belakangan banyak muncul di beberapa kota besar di Indonesia, termasuk Denpasar sebagai kota dan Bali sebagai suatu pulau. Komunitas dengan basis gerakan mendorong lahirnya sebuah aksi yang disebut sebagai kesukarelawanan. Selain orang yang berhimpun, di dalamnya juga dihimpun berbagai sumber kekuatan yang dimiliki oleh anggota komunitas. Semuanya berdasar pada semangat dan kepercayaan terhadap hal yang sama dan tentunya tanpa bayaran.

Di belahan dunia barat yang identik dengan modernitas dan kental akan nilai individualistis, semangat yang sama juga telah hidup. Kegiatan kesukarelawanan menjadi salah satu pilihan untuk satu tahun sebelum menginjak masa kuliah yang dikenal sebagai gap year. Tindakan kesukarelawanan bahkan menjadi suatu aksi afirmasi. Beberapa perusahaan dan aplikasi beasiswa mewajibkan setiap pelamarnya untuk memiliki pengalaman kesukarelawan. Umumnya perusahaan meyakini bila seseorang dapat merawat komitmen dan konsistensinya  tanpa dibayar, maka hal yang sama juga akan terjadi saat mereka memasuki dunia kerja.

Kendati kehidupan sukarelawan dan berkomunitas berkat platform media sosial kini menjadi trend, penggiat yang ditemukan di lapangan pada beberapa kota justru masih berputar pada orang-orang yang sama. Semangat kesukarelawanan oleh sebagian orang, juga kerap kali disalah kaprahkan hanya pada konteks politik, terutama bila mendekati tahun-tahun politik di suatu daerah maupun negeri ini. Padahal, seperti yang telah diungkapkan di atas, semangat yang mendorong adanya gerakan tidak selalu berasal dari semangat pemenangan. Mari kita lihat, semangat untuk berbagi wawasan dan pengetahuan dari praktisi yang dihidupkan oleh Akademi Berbagi, semangat untuk berkebun sekalipun  dengan memanfaatkan lahan seadanya di perkotaan oleh Indonesia Berkebun maupun semangat untuk menjadikan beperjalanan bukan hanya kegiatan bersenang-senang untuk diri sendiri, melain sekaligus membagi pengetahuan dan semangat pada anak-anak di daerah terpinggirkan yang dijalankan oleh 1000 Guru. Bagi sebuah gerakan oleh komunitas, usia dari beberapa contoh yang saya sebutkan sudah teruji dan mampu tersebar di beberapa daerah di Indonesia.

Dinamika sosial ini menjadi semakin menarik bila kita kaitkan dengan kehidupan beragama serta adat dan istiadat yang telah terlebih dahulu berakar di Bali. Sebenarnya semangat kesukarelawanan itu sudah ada di dalamnya. Namun, ketika hal tersebut dibawa pada tatanan kehidupan yang kita sebut lebih modern atau kekinian banyak yang merasa enggan. Akibatnya, semua berjalan masing-masing. Sayang sekali, kekuatan yang dimiliki oleh kehidupan adat di Bali dan semangat berkomunitas saat ini belum benar-benar berkolaborasi. Padahal, kolaborasi yang tepat di sini, akan mendatangkan manfaat dari, oleh dan untuk kita.

Membangun Indonesia dan membangun daerah dimana kita tinggal juga dapat diyakini sebagai sebuah gerakan dimana kita sebagai warga negara adalah komunitasnya. Tentu bukan gerakan yang singkat, namun tentu akan terus berlanjut hingga tercapai tujuan meski bukan kita yang menikmati. Melalui kesukarelawanan kita bisa memecah diri sesuai dengan minat maupun perjuangan dan menjadi bagian kecil dalam gerakan besar membangun negeri. Semangat menjadi relawan adalah semangat yang harus dihidupkan kembali dimana saja, kapan saja dan dengan semangat positif apa saja.

Setiap orang memiliki kapasitas atau kualitas yang dapat dibagikan bagi lingkungan, setidaknya tenaga maupun waktu untuk direlakan. Bayangkan bila ruang-ruang publik di Bali benar-benar dimanfaatkan dengan baik, bukan hanya Taman Kota melainkan juga Balai Banjar dan Sekeha Teruna yang mampu berkolaborasi dengan tiap komunitas dan gerakannya. Semua akan memberi nilai tambah tersendiri dan memperbesar dampak sosial. Apa yang saya tuliskan, sebenarnya sudah dijalankan oleh gerakan Bali Tolak Reklamasi, gerakan yang telah mencapai usia empat tahun dan terus konsisten antara Pasubayan Adat hingga berbagai elemen. Gerakan ini bisa dijadikan sebagai suatu refleksi. Selanjutnya? Mari mulai dari yang sederhana namun signifikan.