Merespon Bali dan Ruang Melalui Pentas Bebunyian

Martino Kalangan-2
2017 © Wayan Martino

Jong, demikian Santiasa Putu Putra-sutradara pementasan ini kerap disapa adalah orang gila… favorit saya.

Baik, saya membuka ulasan ini dengan pernyataan subyektif, gila dan favorit. Tulisan saya kali ini akan cenderung subyektif dan peringatan sudah saya letakan di awal. Selain karena salah satu otak dibalik proses kreatif Bebunyian adalah teman, saya yang terlambat hadir hampir 15 menit karena kendala pekerjaan dan pencarian lokasi juga merasa kurang adil untuk mengulas secara utuh. Namun itu semua tidak menyurutkan antuasiasme saya pada produksi kesepuluh Teater Kalangan lewat tulisan.

Continue reading “Merespon Bali dan Ruang Melalui Pentas Bebunyian”

Dari Pameran A Glimpse of Humanity

WhatsApp Image 2017-08-10 at 5.07.51 PM
Wayan Martino, Not Alone, 80x80cm, Adhesive Paper.

Bulan Agustus yang identik dengan peringatan kemerdekaan bisa diisi dengan berbagai kegiatan, salah satu yang menjadi pilihan adalah menggabungkan pameran seni dengan penggalian dana. A Glimpse of Humanity, diadakan di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud merupakan sebuah penggalian dana untuk anak-anak melalui media pameran seni yang digagas oleh sekumpulan siswa sebagai proyek sosial dari sekolah. Saya berkesempatan datang kemarin, 17 Agustus 2017 saat hari pembukaan sekaligus hari pertama pameran. Continue reading “Dari Pameran A Glimpse of Humanity”

Banda The Dark Forgotten Trail: Mengulik Sejarah Melalui Teropong Pop

WhatsApp Image 2017-08-15 at 8.17.32 AM (1)
Sumber: Instagram Lifelike Pictures

Bukan sebuah karya namanya jika tidak mengundang perdebatan. Begitu pula dengan Banda The Dark Forgotten Trail (Banda). Film nasional berdurasi 94 menit yang mengklaim dirinya sebagai dokumenter sejak awal memang menarik perhatian saya. Saya pun berjanji pada diri sendiri, ketika Banda mendapat layar di Bali maka saya akan menontonnya terlepas dari perdebatan beberapa penikmat mengenai film ini.

Continue reading “Banda The Dark Forgotten Trail: Mengulik Sejarah Melalui Teropong Pop”

Indonesia Belum Pantas Mengajar, Indonesia Mari Belajar

WhatsApp Image 2017-05-09 at 7.03.37 PM

“Hari ini adalah hari pertama saya memutuskan untuk tinggal di Bali, sekalipun saya sudah pensiun nanti…” dia melontarkan kalimat tersebut dalam obrolan kami berlima di saat makan malam ini, 9 Mei 2017. “Karena saya belum sanggup untuk berpindah dari Indonesia…” dia melanjutkan, merujuk pada status salah satu kenalan kami di linimasa yang menulis keinginannya untuk pindah saja dari Indonesia. Facebook dan media sosial hari ini memang ramai dengan perbincangan putusan pengadilan tingkat pertama untuk Ahok, mulai dari analisis politik hingga karya puisi.

Saya bukan pemuja figur, pun termasuk Basuki ‘Ahok’ Tjahaja Purnama. Ketika orang-orang beramai-ramai memuja Ahok, bagi saya Ahok memiliki kesalahan fatal. Ia mencederai beberapa janji kepada masyarakat termarginalkan. Tentu, tidak memuja Ahok bukan berarti saya pendukung lawannya pada Pilkada DKI Jakarta lalu. Hanya saja, bila Anda termasuk golongan yang sulit untuk mempercayai bahwa ada nilai-nilai lain yang lebih layak untuk diperjuangkan dari sekadar ketokohan, ada baiknya Anda melewati ini dulu dan kembali lagi suatu hari. Saat Anda siap memahami. Kemudian, lanjutkan saja membaca paragraf berikutnya bila berkenan.

Continue reading “Indonesia Belum Pantas Mengajar, Indonesia Mari Belajar”

Ketika Saya Bercerita

17038929_1446418488726401_4215575164907449606_o

Seorang Candra berpameran? Bagi sebagian orang mungkin itu sulit dipercaya. Pameran apa? Fotografi, saya sendiri lebih suka menyebutnya cerita visual. Tetap saja, bagi sebagian masih sulit dipercaya. Tapi dalam hidup selalu ada kejutan menyangkut setiap orang yang kita kenal. Begitu juga dengan saya sendiri, maka sebut saja kali ini “ternyata” momen saya.

Continue reading “Ketika Saya Bercerita”

Salam dari Akber Bali untuk 2016

whatsapp-image-2017-01-16-at-22-24-12

Tahun 2016, bisa disebut sebagai titik balik gerakan Akber Bali. Bermula dari saya yang merasa kami butuh energi energi baru dan kita bisa lebih daripada ini. Bisa. (Silakan dibaca dengan berapi-api). Lalu saya berkeinginan mengadakan rekrutmen relawan pengelola baru dan keinginan itu juga didukung oleh teman-teman relawan saat itu seperti Fahri, Ria, Shandy dan Vina.

Singkat cerita, terjerumuslah bergabunglah beberapa relawan pengelola baru pada bulan Februari, ada Mas Wira, Bli Sumada, Cita, Lia, Yogi serta Jian dan Aghna. Khusus Jian dan Aghna, ini pertama kalinya Akber Bali memutuskan berani menerima relawan dari kabupaten yang berbeda. Akber Bali memang sedikit berbeda dengan Akber kota lainnya, kami menyandang nama propinsi. Saya dan Fahri sebagai Kepala Sekolah saat itu berpikir mengapa tidak?   Continue reading “Salam dari Akber Bali untuk 2016”

Mengenal Prenuptial Agreement

ahr0chmlm0elmkylmkzjns5zdgf0awnmbglja3iuy29tjtjgmsuyrju5nsuyrjmwotuxmzgwmty0xzdkzdg3owmwmgffby5qcgc
Pic source: Bloglovin’

Pernah mendengar istilah prenuptial agreement atau prenup?

Prenuptial agreement dalam bahasa dikenal sebagai perjanjian pra perkawinan. Iya, memang ada juga yang menyebutnya dengan perjanjian pra nikah. Namun, pernikahan adalah istilah dalam Kompilasi Hukum Islam, yaitu hukum yang berlaku bagi pemeluk agama Islam. Sementara Indonesia secara umum mengenal Undang-undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974. Banyak yang keliru dengan istilah kawin yang dianggap sebagai istilah biologis saja, padahal kawin juga merupakan status hukum seseorang dalam masyarakat.

Perjanjian pra perkawinan ini menuai pro dan kontra hingga kini. Uniknya, seperti salah kaprah mengenai istilah di atas,  pro dan kontra yang ada justru berasal dari masyarakat yang belum mengenal lebih lanjut tentang perjanjian pra perkawinan. Sebelum menentukan dimana posisimu, mari kita cari tahu yuk! Continue reading “Mengenal Prenuptial Agreement”