Bahasa Bergerak, Bergerak dari Bali

Bahasa Bergerak adalah upaya dalam mendukung masyarakat inklusif antara masyarakat Dengar dan masyarakat Tuli di Bali. Gerakan ini diinisiasi oleh beberapa relawan dari Bali Deaf Community, bekerjasama dengan Bali Deaf Community, Gerkatin dan Trax Video Bali.

Bahasa Bergerak memulai gerakannya melalui penggalangan dana lewat platform Kita Bisa yang direncanakan akan berlangsung hingga 10 Mei 2016. Hasil dari penggalangan dana akan disalurkan dalam bentuk buku ajar Bahasa Isyarat Indonesia yang digunakan oleh masyarakat Tuli maupun masyarakat Dengar di Bali. Selain itu, juga akan dibuat dalam bentuk video ajar yang dapat diakses oleh berbagai kalangan baik di Bali maupun di luar Bali.

Gerakan ini diawali oleh kesadaran bahasa sebagai alat yang penting bukan hanya dalam komunikasi namun juga penguasaan ilmu pengetahuan. Bahasa Bergerak melihat murid-murid yang selama ini ingin menggunakan maupun mempelajari Bahasa Isyarat masih mengalami banyak kendala. Pertama, Bahasa Isyarat Indonesia sebagai ‘bahasa ibu’ masyarakat Tuli belum dapat dipergunakan di tempat-tempat formal seperti sekolah maupun pelayanan umum karena belum ada standar yang baku. Kedua, pada Sekolah Luar Biasa (SLB) yang biasa digunakan adalah Sistem Bahasa Isyarat Indonesia (SIBI) yang dibuat oleh pemerintah untuk mengakomodir kebutuhan Bahasa Isyarat. Akan tetapi, dalam proses pembuatannya tidak melibatkan masyarakat Tuli sebagai pengguna bahasa tersebut.

Maka, sudah saatnya untuk Bahasa Isyarat Indonesia bergerak. Kami memulainya dari pembuatan buku ajar dan video ajar. Melalui pembuatan buku maupun video ajar diharapkan akan menjadi jembatan antara minat belajar Bahasa Isyarat yang sedang tumbuh di Bali dengan kebutuhan penerjemah Bahasa Isyarat baru. Tahapan pertama saat dana telah terkumpul adalah komunitas Tuli yang ada di Bali akan berkumpul dan menyepakati beberapa hal mendasar dalam Bahasa Isyarat Indonesia untuk kemudian dituangkan dalam bentuk buku maupun video.

CcmX4kzUUAA6f6o

Bahasa Bergerak sebagai sebuah gerakan juga dapat ditemui melalui media sosial, baik di Instagram @BahasaBergerak maupun di Twitter @BahasaBergerak. Netizen dapat membantu kampanye gerakan ini dengan menyebarkan tautan pada platform KitaBisa yaitu kitabisa.com/bahasabergerak, menggunakan tanda pagar #BahasaBergerak dan tentunya dengan berdonasi mulai dari 20.000,00. Bagi Netizen di Bali yang ingin mempelajari Bahasa Isyarat Indonesia juga dapat menghubungi @balideafcomm di Twitter maupun di Instagram.

Setiap dari Anda mungkin tidak bisa mengubah dunia menjadi lebih baik dalam sekejap saja, tapi Anda dapat mengubah dunia Teman Tuli menjadi lebih luas dan tanpa batasan dalam belajar maupun kehidupan sehari-hari. Bila pengetahuan adalah kekuatan dan informasi merupakan pembebasan, maka pendidikan adalah kemajuan. Mari maju bersama-sama dalam dunia yang inklusif mulai dari Pulau Bali.

(Sebelumnya juga dimuat dalam http://balebengong.net/kabar-anyar/2016/04/10/bahasa-bergerak-bergerak-dari-bali.html )

Advertisements

Masyarakat Ramah Disabilitas Untuk Pembangunan

Persoalan yang dihadapi oleh penyandang disabilitas tidak terbatas hanya pada pelabelan sebagai kaum yang tidak mampu. Bila ditarik lurus, permasalahan disabilitas memiliki kaitan dengan kesejahteraan sosial. Sehingga disabilitas dengan persoalannya adalah bagian dari persoalan pembangunan bangsa dan negara.

Seperti persoalan pembangunan pada umumnya, disabilitas yang tidak ditangani dengan baik memiliki efek domino pada berbagai sektor. Hal pertama yang seharusnya dilakukan pemerintah adalah memberi aksesibilitas pada penyandang disabilitas. Aksesibilitas dalam Ketentuan Umum Draft RUU Penyandang Disabilitas memiliki arti kemudahan yang disediakan bagi penyandang disabilitas guna mewujudkan kesamaan kesempatan dalam segala aspek penyelenggaraan negara dan masyarakat.[1] Sementara, dari kacamata penyandang disabilitas, aksesibilitas adalah jalan untuk mendapat kesempatan yang sama, bukan sekadar kemudahan.

Sebagaimana dinyatakan dalam laporan WHO-World Bank pada tahun 2011 mengenai disabilitas, merupakan bagian dari kondisi manusia. Hampir setiap orang akan memiliki kerusakan yang temporer maupun permanen pada satu titik di kehidupannya, dan mereka yang bertahan sampai usia tua akan mengalami peningkatan kesulitan dalam fungsi hidupnya. Sementara, United Nation Convention on the Rights of Person with Disabillity (UNCRPD) menyatakan  disabilitas sebagai “konsep yang berkembang yang dihasilkan dari interaksi antara penyandang gangguan dan sikap, dan hambatan lingkungan yang menghalangi partisipasi penuh dan efektif mereka dalam masyarakat atas dasar kesetaraan dengan orang lain.”[2]

Fakta lain, penyandang disabilitas merupakan bagian penduduk dengan kemungkinan menjadi miskin paling tinggi di seluruh dunia, terutama penyandang disabilitas anak dan perempuan.[3] Kemiskinan dalam persoalan disabilitas bermula pada hambatan untuk mengakses kesempatan yang sama untuk mendapat pekerjaan dengan mereka yang tidak mengalami disabilitas. Itu artinya, penyandang disabilitas adalah bagian dari kelompok yang rentan menjadi korban kemiskinan struktural.

Menurut penulis, merupakan hal yang penting untuk memisahkan antara kondisi sakit dengan keadaan menyandang disabilitas, dimana disabilitas merupakan hasil interaksi antara manusia dan konsepsi dua arah yang akan terus berkembang. Kesalahan pemaknaan ini kerap bermuara pada ketidaksetaraan perlakuan antara penyandang disabilitas dengan yang dianggap non disabilitas.

Jumlah penyandang disabilitas di Indonesia pada tahun 2012 tercatat sebanyak 3,838,985. Orang-orang dengan disabilitas pada data tersebut paling banyak ada pada usia produktif, yaitu 25 hingga 55 tahun.[4] Pada negara-negara yang dianggap maju, jumlah angkatan kerja disabilitas yang menganggur sebanyak 50% hingga maksimal 70%. Sementara, di Indonesia keberadaan angkatan kerja dengan disabilitas belum dimanfaatkan secara maksimal, sebab hanya 10% dari jumlah angkatan kerja dengan disabilitas yang memiliki pekerjaan dan mampu membiayai hidupnya secara mandiri.

Indonesia sebagai negara dengan populasi penduduk terbanyak keempat di dunia telah meratifikasi UNCRPD atau Konvensi Hak-Hak Penyandang Disabilitas melalui Undang-Undang Nomor 19 tahun 2011 tentang Hak-Hak Penyandang Disabilitas ( selanjutnya UU 19/2011). Pasal 27 pada UU19/2011 memuat negara sebagai pihak yang mengakui hak penyandang disabilitas untuk bekerja, atas dasar kesetaraan dengan yang lainnya. Indonesia sebagai pihak negara yang telah meratifikasi harus melindungi dan termasuk memajukan pemenuhan hak penyandang disabilitas untuk bekerja. Pemerintah dapat mengambil langkah-langkah tertentu, termasuk melalui peraturan perundang-undangan.

Salah satu peraturan perundang-undangan yang melaksanakan aksi afirmatif[5] yang berpihak pada penyandang disabilitas adalah aturan 1% dari 100 karyawan bagi setiap perusahaan untuk mempekerjakan penyandang disabilitas. Aturan ini bahkan telah ada sebelum Indonesia meratifikasi Konvensi Hak-Hak Penyandang Disabilitas. Pada Undang-Undang Nomor 4 tahun 1997 tentang Penyandang Cacat dan Peraturan Pemerintah Nomor 43 tahun 1998 tentang Upaya Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Penyandang Disabilitas, secara khusus mengatur hak bekerja bagi penyandang disabilitas.

Pasal 14 menegaskan kuota 1 persen untuk ketenagakerjaan penyandang disabilitas di perusahaan pemerintah maupun swasta. Pasal 5 menyatakan bahwa setiap penyandang disabilitas memiliki hak dan kesempatan yang sama dalam segala aspek kehidupan. Pada pasal 6 mendaftar berbagai hak bagi penyandang disabilitas seperti pendidikan, pekerjaan, perlakuan yang sama, aksesibilitas, rehabilitasi.

Hingga saat ini, Undang-Undang Penyandang Disabilitas sebagai pengganti dari Undang-Undang Nomor 4 tahun 1997 tentang Penyandang Cacat (selanjutnya UU 4/1997) masih dinanti pengesahannya. Namun, pada masa jabatan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) 2009-2014 lalu, pembahasan dari Rancangan Undang Undang Disabilitas masih menggantung.

Padahal, Indonesia pasca meratifikasi UNCRPD memerlukan suatu peraturan yang holistik dan sejalan dengan UNCRPD. Semua itu diperlukan untuk mengakomodir penyandang disabilitas agar merasakan perlindungan atas hak mereka. Pandangan konservatif dengan mengasihani yang ada pada UU 4/1997 harus segera dihapuskan dan digantikan dengan Undang-Undang yang berperspektif Hak Asasi Manusia (HAM). Sebab, bila kita melihat dari sisi sejarah kondisi penyandang disabilitas yang terpinggirkan di Indonesia berasal dari sensitifitas yang kurang dan budaya mengusung ekslusifitas.

Eksekusi Ada Pada Tingkat Daerah

Seperti yang telah penulis paparkan pada bagian awal, persoalan disabilitas merupakan persoalan pembangunan. Bila kita membicarakan pembangunan, maka sinergi antara pembangunan di pusat dan daerah merupakan kunci keberhasilan.

Selain menanti pengesahan RUU Penyandang Disabilitas, masyarakat di Bali juga menanti pengesahan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) Penyandang Disabilitas. Terdapat banyak hal yang harus ada dalam Ranperda tersebut sebelum akhirnya disahkan. Bukan saja perihal menghormati hak dari setiap penyandang disabilitas tapi juga pelaksanaan serta pemenuhannya terhadap masyarakat. Pemenuhan terhadap pekerjaan merupakan salah satu yang darurat, selain pemenuhan untuk pelayanan maupun fasilitas publik.

Data yang dimiliki oleh Pusat Pengembangan Disabilitas (PUSPADI) Bali pada tahun 2011 menunjukkan penyandang disabilitas di Provinsi Bali berada paling banyak pada pedesaan. Sementara, daerah pedesaan memiliki akses yang dua kali lebih sulit bagi penyandang disabilitas, Stigma yang muncul pada masyarakat pedesaan terhadap penyandang disabilitas juga memberatkan mereka. Misalnya saja, anggapan bahwa itu merupakan karma buruk di masa lalu. Padahal, dalam menyikapi hal tersebut yang harus diketengahkan adalah persamaan hak sebagai manusia saat ini.

Melalui Perda Penyandang Disabilitas ini, Bali ditantang untuk menyusul beberapa provinsi yang telah mengesahkan Perda dan menjadi daerah yang inklusif. Memberi ruang dan kesempatan yang sama bagi setiap warga masyarakat di daerah tersebut. Pemerintah Daerah Bali juga seharusnya mulai bermitra dengan lembaga-lembaga non profit yang memiliki visi yang untuk memberdayakan penyandang disabilitas. Mulai dari D Network, (merupakan pilot project penghubung pencari kerja disabilitas dan perusahaan yang berkantor di Bali) maupun dengan pengusaha-pengusaha di Bali.

Sekali lagi, keseriusan dan konsistensi Pemerintah untuk mewujudkan Piagam Suharso[6] diuji, baik pada tingkat nasional maupun daerah. Sebab, kota maupun negara yang ramah bagi penyandang disabilitas pada saat yang sama pula telah membangun dan ramah bagi seluruh masyarakatnya. Semua itu dimulai dari membangun persepsi.


[1] Draft RUU Penyandang Disabilitas, http://www.kemsos.go.id/unduh/Roren/analisis-kebijakan/Draft_RUU_Penyandang_Disabilitas__POKJA.pdf, diakses pada 20 Januari 2015, pukul 11.55 WITA.

[2] Apakah Disabilitas Itu? http://betterwork.org/indonesia/wp-content/uploads/20130201_Employing-Persons-with-Disabilities-Guideline_Indonesia_Final.pdf, diakses pada 22 Januari 2015 pukul 10.00 WITA.

[3] Kajian Disabilitas Indonesia: Hasil Akhir, http://www.kemsos.go.id/unduh/Roren/analisis-kebijakan/prof-toening-study-disabilitas-demografi-ui.pdf, diakses pada 20 Januari 2015, pukul 12.00 WITA.

[4] Analisis Kebijakan Disabilitas 2013, http://www.kemsos.go.id/unduh/Roren/analisis-kebijakan/disabilitas-analisis-kebijakan-2013.pdf, diakses pada 20 Januari 2015, pukul 12.10 WITA.

[5] Kebijakan untuk meningkatkan representasi dari orang-orang dalam kelompok-kelompok yang diyakini telah mengalami diskriminasi.

[6] Merupakan salah satu dari 9 Piagam Perjuangan Rakyat yang ditandatangani di atas materai oleh Joko Widodo pada 5 Juli 2014 di Jakarta, secara garis besar melaksanakan ratifikasi dan membenahi persepsi terhadap penyandang disabilitas sebagai asset negara.

*) Dimuat dalam Harian Bali Express pada Februari 2015.