It’s Okay, I Like Myself

WhatsApp Image 2017-07-25 at 4.33.44 AM
Bonus pemandangan saya saat menulis blog post kali ini 🙂

Kalau teman-teman mengikuti instagram ibook Retno Hening Palupi (@retnohening) sejak lama, mungkin saja sudah akrab dengan apa yang dikatakan oleh Kirana si gadis cilik kesayangan jagat instagram. Bagaimana sang ibook mengajarkan Kirana bahwa tidak ada yang salah dengan dirinya, mulai dari eksim yang ada pada Kirana hingga anggota tubuhnya. Saya pun pernah meregram video ini hampir setahun lalu, kira-kira pada bulan November 2016.

Continue reading “It’s Okay, I Like Myself”

Hukum Pewarisan Adat Bali Hari Ini

Ketika membicarakan kebudayaan di Bali, pikiran masyarakat umum akan terarah pada kesenian, ritual upacara keagamaan maupun tradisi-tradisi yang telah dijalankan turun temurun. Pada tingkatan selanjutnya, sebagian akan mengaitkan dengan konsep Tri Hita Karana, yaitu harmonisasi hubungan manusia dengan alam, dengan sesamanya dan dengan Tuhan. Demikianlah, Bali sebagai suatu panggung pertunjukkan atas nama pariwisata untuk dunia.

Posisi Bali yang lebih dikenal karena pariwisata berpengaruh terhadap kemudahan masuk arus globalisasi melalui ilmu pengetahuan teknologi, ekonomi, politik hingga budaya. Bagai pisau bermata dua, globalisasi memiliki pengaruh dalam tiap aspek kehidupan masyarakat. Reaksi masyarakat terhadap globalisasi cenderung berbeda pada tiap generasi, sebaran tempat tinggal, maupun status sosial. Pada akhirnya, modernisasi maupun globalisasi memiliki dampak baik yang bersifat positif maupun negatif terhadap kehidupan masyarakat, termasuk budaya suatu masyarakat. Continue reading “Hukum Pewarisan Adat Bali Hari Ini”

Yang Dia Ingin

 

Dia tak ingin jadi pantai

Hiruk pikuk di akhir pekan

Namun lalu berakhir pilu

Saat melepas satu

 

Dia hanya ingin jadi pasir pantai

Ada seni saat menggengam

Ada pula hangat

Saat bertemu telapak kaki

 

Dia tak ingin jadi teluk

Diperebutkan saksi perselingkuhan

Saudagar dan pengayom dari nurani

Berpuluh purnama, demi rupiah semata

 

Dia hanya ingin jadi nelayan teluk

Tak pernah ingkar waktu melaut

Kembali dengan cukup

Memahami mana hak diri, mana hak ikan

 

Sanur, Januari 2016. 

Menolak reklamasi Teluk Benoa adalah perihal ketetapan hati dan laku.

*telah dimuat sebelumnya pada situs Logika Rasa

Ruang Pembuka

Merekam Bali bukan kegiatan fotografi, vlog apalagi film dokumenter. Merekam Bali adalah proyek menulis bersama dengan teman-teman saya, Eka Mulyawan, Happy Ary, Widyartha Suryawan dan Saka Agung. Masing-masing dari kami berlima memiliki latar belakang pendidikan juga keilmuan yang berbeda dan tentunya perspektif yang berbeda terhadap Bali. Saya masih belajar di Magister Ilmu Hukum Universitas Udayana dengan konsentrasi Hukum Kepariwisataan, Eka merupakan Junior Arsitek, Happy seorang pemerhati kesehatan yang sedang bermarkas di Sloka Institute, Surya yang baru saja lulus dari FISIP Universitas Udayana dan Saka Agung merupakan Peneliti di bidang perikanan.

Pada awal bulan September ini, kami bersepakat untuk mengkonkretkan rencana lama, suatu proyek menulis bersama yang kemudian kami namakan #MerekamBali. Mengapa  Bali? Karena kami tidak ingin menjadi orang-orang yang clueless dengan tempatnya bermukim. Selama delapan minggu ke depan, kami akan merekam Bali melalui tulisan secara bergantian setiap pekan di blog masing-masing. Saya setiap hari Senin, Eka pada hari Selasa, Happy pada hari Rabu, Surya pada hari Kamis dan Saka Agung pada hari Jumat.  Meskipun mempunyai bidangnya masing-masing, kami juga akan menulis Bali sebagai apa yang kami pandang, tidak selalu  harus serius dan tidak selalu harus seragam. Bebas.

merekambali-1

Bali sendiri memiliki banyak dimensi, Bali sebagai satu pulau bagian dari Sunda Kecil, Bali sebagai satu Provinsi hingga Bali sebagai komoditas dan branding. Maka pada tulisan pembuka ini, saya ingin memandang Bali sebagai orang yang kini tinggal di Bali, lahir di Bali namun besar di perantauan. Bagaimanapun bagi saya Bali adalah rumah, bukan karena nama besarnya tapi karena orang-orang yang tinggal di dalamnya dan apa yang dianugerahkan pada Bali itu sendiri. Orang Bali menyebutnya taksu.

Ada banyak jargon untuk mempromosikan Bali, ada banyak cara untuk tiba di Bali. Ada banyak juga cara untuk teringat tentang Bali, sebut saja dengan mendengar lagu Lembayung Bali dari Saras Dewi atau Kuta Bali milik Andre Hehanusa. Tapi tidak semua paham bagaimana memperlakukan dan mencintai Bali. Tentu bukan dengan menyamakannya dengan berbagai destinasi pariwisata megah dan terkenal lainnya.

Saya masih ingat betul bagaimana Bali –terutama wilayah Denpasar dan Badung semasa saya anak-anak, meski hanya saya kunjungi  setahun sekali di saat liburan kenaikan kelas. Bali saat itu adalah Bali yang berbeda dengan hari ini. Pembangunan menjadi kata kunci yang membuat perbedaan tersebut. Perbedaan bukan hanya pada aspek tata kota misalnya, tapi juga sosial budaya. Pembangunan Bali lima tahun belakangan telah mencapai titik berlebihan yang tidak mengindahkan keberlanjutan. Maka, cara untuk mencintai Bali sesungguhnya dengan memberikannya ruang.

Terlihat sederhana, namun pada pelaksanaannya tidak sesederhana itu. Sebab, dimana ada masyarakat di situ ada hukum. Kesemuanya akan saya coba tuangkan pada tulisan-tulisan selanjutnya.

NB: Pada pertengahan proyek, kami kedatangan satu anggota tambahan yaitu Anton Muhajir seorang Jurnalis Lepas yang akan mengisi setiap hari Sabtu.

Bumi Setara; Awal Mula

Satu tahun lalu, tepatnya 15-16 Agustus 2015 melalui Ari, saya diperkenalkan dengan Mbak Vivi. Uniknya, pada hari kami berkenalan kami langsung terlibat kemah bersama di Bukit Asah, Karangasem bersama beberapa teman yang lainnya, termasuk Kak Siska dan Bali Deaf Community (BDC). Saya masih ingat, dalam dua hari itu kami belajar banyak mengenai Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) termasuk menyanyikan Indonesia Raya dalam Bisindo bersama teman-teman Tuli. Tentu saja karena saat itu masih dilingkupi suasana kemerdekaan Republik Indonesia ke-70.

Memori itu membawa saya kembali pada hari ini, satu hari setelah hari kemerdekaan Indonesia yang ke-71. Ari Bathilda, Vivi Nuril, Siska Desiyanti dan saya, kami berempat masih bersama. Kami bersama-sama melahirkan Bumi Setara. Sebuah proyek sosial yang lahir bukan dari rahim melainkan dari pemikiran serta kegelisahan kami pada lingkungan. Pada dua isu utama, difabel dan pendidikan.

Embrio mengenai Bumi Setara muncul di awal tahun 2016, saat itu Ari yang sedang pulang dari belajarnya di Universitas Gajah Mada (UGM) menceritakan mengenai obrolannya di sana mengenai kesempatan mendapat beasiswa bagi siswa difabel yang dinilai masih minim dan kualitas pendidikan yang masih rendah. Kami kemudian bersepakat untuk melakukan tindakan kecil dengan mengumpulkan donasi masyarakat dan mengelolanya. Sasaran utama sebagai donatur adalah teman-teman sebaya. Kami menganggap pendekatan secara persuasif pada mereka yang sebaya tentu akan lebih mudah. Selain itu kami ingin mengetengahkan isu kemudahan akses pendidikan tanpa terkecuali.

Saat itu, proyek ini bahkan belum memiliki nama. Setelah Ari kembali ke Yogyakarta dan tersisa kami di Bali, berbekal ponsel pintar kami melakukan banyak pertemuan secara virtual untuk mematangkan proyek kami. Mulai dari memikirkan logo yang dibantu oleh Swakarma Satwika, mematangkan mengenai tingkat sekolah sasaran penerima beasiswa, jenis difabel sasaran penerima beasiswa hingga detil lainnya. Iya, Bumi Setara adalah proyek jarak jauh namun dengan sepenuh hati.

139523

Dalam perjalanannya, kami tahu ini tidak akan mudah (tidak satu pun dari kami yang merupakan difabel, tidak semua dari kami fasih dalam berbahasa isyarat) tapi kami percaya, semua itu bukan berarti tidak mungkin. Kami menjelaskan Bumi Setara sebagai sebuah program beasiswa yang ditujukan bagi siswa maupun siswi difabel dimulai dari Bali. Kami menerapkan administrasi keuangan sebaik mungkin sejak awal, sekalipun kami bekerja dengan sifat kesukarelawanan. Sebab, kami merencanakan Bumi Setara dapat menjadi lebih baik dan lebih besar untuk kemudian menjangkau lebih luas lagi.

Sebagai pilot project untuk tahun ajaran ini kami memiliki tiga penerima beasiswa di tingkat Sekolah Dasar Luar Biasa B, semuanya adalah siswi Tuli. Pemilihan siswi maupun jenis difabel Tuli bukan disengaja, melainkan sesuai dengan sistem penilaian dan survey lapangan yang telah kami jalankan. (Cerita saat survey dapat disimak di sini).

138935

Sementara, pengumpulan dana untuk Bumi Setara melalui donatur tetap telah dimulai sejak bulan Mei  lalu. Donatur tetap adalah masyarakat yang bersedia mengikatkan dirinya untuk menyumbang 100.000,00 setiap bulan dalam jangka waktu satu tahun ajaran.  Berbeda dengan donatur bebas yang tidak terikat nominal dan jangka waktu.

Hari ini, satu hari setelah peringatan kemerdekaan ke-71 negara ini, bagi saya setiap harinya sejak 71 tahun lalu kita telah merdeka. Saya tidak ingin kembali memperdebatkan kemerdekaan seperti yang lalu-lalu. Nusantara, dahulu bahkan tidak dibangun hanya dalam satu malam seperti membangun Candi  dalam kisah Roro Jonggrang. Tantangan kita adalah untuk mewujudkan kemerdekaan-kemerdekaan yang lebih dekat bagi beberapa kelompok dengan memeratakan roti pembangunan.

Seratus ribu mungkin tidak akan mengubah duniamu (mungkin juga hanya akan mengurangi jatah 2 Cup Starbucks-mu dalam sebulan) tapi percayalah, jumlah itu mampu mengubah dunia bagi beberapa orang.

Salam,

Bumi Setara

139527

(Bukan) Epilog

Proyek #33HariBagiCerita saya awali bukan dengan prolog, maka tulisan kali ini lebih baik tidak diberi judul epilog. Sedari mula, saya hanya ingin merangkum apa yang saya pilih untuk saya rekam dalam 33 hari ke belakang. Proyek yang visioner dan optimistis kalau saya mengingatnya kembali, karena perkara umur siapa yang tahu? Kabar baiknya, usia kami bertambah 33 hari sejak hari itu. Kami makin tua. Hahaha.

Bercerita lewat menulis adalah upaya merekam atau mengabadikan sesuatu, karena kita tidak bisa memesan ingatan. Tapi setidaknya melalui menulis kita bisa berusaha mensortir yang mana dan yang pasti ingin kita kenang. Berkaca dan melihat bagaimana kita yang dahulu untuk kemudian bertumbuh dalam memandang suatu hal.

Untuk yang terakhir, tentu tidak akan terlihat dalam kurun waktu 33 hari saja. Dibutuhkan lebih lama dari satu bulan lewat tiga hari. Tapi hey, bagaimanapun 33 hari ini berharga. Konsistensi dan komitmen itu mahal, bukan? Bahkan tidak ternilai.

Jadi, tulisan kali ini memang bukan epilog melainkan sekadar penanda bahwa saya (dan mungkin kami) membuka lembar dengan kebiasaan baru; menulis. Selamat menulis sampai semesta yang punya andil untuk menghentikannya.